Showing posts with label B. Indonesia. Show all posts
Showing posts with label B. Indonesia. Show all posts

Tuesday, 1 July 2014

Ketika Hati Tidak Saling Memiliki

Pernahkah kalian mengagumi seseorang, lalu menginginkan kalian memiliki hatinya? Aku rasa setiap orang pasti pernah mengalaminya. Di saat hati kita telah memilihnya, tetapi dia tidak mempedulikannya, di saat itulah hati kita tidak saling memiliki. Ya, mungkin saja hati kita ini telah menjadi miliknya, tetapi entah sampai kapan kita harus terus menunggu untuk menjadikan hatinya milik kita. Tidak akan ada kata pasti sebelum hal itu terjadi.

Saat sang pemilik hati ini mendekati pemilik hati yang lainnya, apa yang bisa kita perbuat? Sampai kapan kita akan bersabar? Hati kita pasti akan meronta, ia merasa cemburu, kecewa, dan tentu sakit atas kehadiran hati lainnya. Tetapi apa daya kita? Kita tidak dapat melakukan apa pun. Hati tersebut belum memiliki tempat berlabuh, ia berhak memilih siapa saja untuk melabuhkannya. Sedangkan kita? Hati kita serasa telah dimilikinya.

Hati kita dan hatinya memang tidak saling memiliki sampai detik ini. Hal itulah yang membuat rasa sakit ini terus bertambah. Tidak adanya kata memiliki untuk sebuah hubungan menjadikan hati kita risau dan takut. Takut jika hati yang telah dipilihnya menjadi milik orang lain. Rasa ini akan terasa jauh lebih besar dibanding dengan dua hati yang telah saling memiliki.

Hati yang saling memiliki seperti terhubungan dengan sehelai benang. Saat hati yang satu berdekatan dengan yang lainnya, akan selalu ada benang yang membuatnya teringat dengan hati lainnya, hati yang telah dia miliki. Jika kedua hati yang telah saling memiliki ini saling menjaga, mereka tidak akan mungkin saling menyakiti, tidak akan saling mendekati hati yang lainnya.

Sakit, melihat hati yang telah memiliki hati kita berkelana untuk mencari hati lain yang mampu membuatnya berlabuh. Tetapi apakah mereka tidak sadar bahwa hati yang membuatnya ingin berlabuh belum tentu menerimanya? Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Ya, tentu saja berusaha untuk membuat dirinya berlabuh. Bagaimana pun caranya.

Hati ini tidak akan memikirkan hal lainnya, kecuali bagaimana cara membuat dirinya berlabuh. Padahal, tanpa dia ketahui, hati kita telah dimiliki olehnya. Tanpa dia ketahui pula, saat dia berusaha mendapatkan sebuah pelabuhan, ada hati lain yang tersakiti, tergores, bahkan terasa teriris menyaksikannya.


Mulai sekarang, apa salahnya jika kita menjaga apa yang telah kita miliki? Karena apa yang kita inginkan belum tentu menjadi yang terbaik untuk kita. Biarkan hati ini memilih dengan sendirinya, biarkan kata “saling memiliki” ini tumbuh karena telah terbiasa. Ya, biarkanlah sebuah cinta tumbuh karena terbiasa, karena sebuah kenyamanan, dan karena sebuah kepercayaan. Biarkanlah sesekali cinta tumbuh dengan caranya, tidak dengan kita yang memilihnya.

Saturday, 28 June 2014

Kerusuhan di Ladang Tulip

Kerusuhan bisa saja terjadi dimana saja, tidak terkecuali di seri ke delapan MotoGP kali ini. Seri ke delapan yang kali ini di selenggarakan di Negeri Bunga Tulip alias Belanda ini telah menorehkan sebuah cerita tersendiri. Sirkuit Assen akan menjadi saksi bisu dari cerita yang mungkin akan terus diingat oleh para pembalap yang bisa dikatakan menjadi korban dalam kerusuhan kali ini.

Menurut jadwal, balapan ini akan diselenggarakan pukul 19.00 WIB, tetapi sampai jam menunjukkan pukul 19.15 balapan ini belum terselenggara. Satu faktor yang mempengaruhi hal ini adalah cuaca. Cuaca di Sirkuit Assen sore ini (waktu Belanda) memang tidak menentu. Para pembalap dibuat bingung akibat awan yang terus berubah warna. Kebingungan ini disebabkan karena pembalap harus bisa memilih ban apa yang akan mereka gunakan selama 26 putaran ke depan. Ada dua pilihan ban yang bisa mereka gunakan, yatu wet dan dry. Hal ini tentunya akan mempengaruhi performa dari motor yang mereka gunakan.

Cuaca ini mengakibatkan panitia penyelenggara pertandingan ini (Dorna) memberi kesempatan para pembalap untuk melakukan setting lap, yaitu melakukan putaran yang akan membantu mereka untuk menentukan pengaturan motor yang akan mereka gunakan. Setelah setting lap ini dilakukan, pembalap pun akan memulai balapan dengan di dahului oleh warm up lap, yaitu sebuah putaran sebagai pemanasan untuk motor.

Warm up lap pun dilakukan, dan terlihat beberapa pembalap tidak berada di starting grid-nya, melainkan memulai balapan dari pit line saat menyelesaikan putaran ini. Starting grid merupakan penunjuk posisi atau urutan pembalap untuk memulai balapan. Posisi ini didapat dari hasil kualifikasi sebelumnya. Semakin cepat catatan waktunya saat kualifikasi, maka dialah yang berhak start dari grid terdepan. Sedangkan pit line dapat dikatakan sebagai garis start bagi pembalap yang telah melakukan pelanggaran. Pembalap ini akan mendapat hukuman dengan start 10 detik lebih lambat dari pembalap lain. Salah satu pembalap yang memulai balapan dari pit line ini adalah Valentino Rossi. Dia memulai balapan dari pit line karena melakukan pergantian ban setelah warm up lap, hal ini merupakan sebuah larangan dalam balapan MotoGP.

Balapan 26 putaran pun dimulai, 10 putaran pertama dilalui para pembalap menggunakan ban yang telah menjadi pilihan mereka. Mulai dari lap ke 11 terlihat banyak pembalap yang masuk pit (sebuah garasi motor) untuk mengganti ban motornya. Kerusuhan pun terjadi, balapan terlihat sangat menarik karena hal ini. Urutan pembalap pun berubah-ubah seiring banyaknya pembalap yang memasuki pit. Bahkan terlihat beberapa pembalap yang memasuki pit lebih dari sekali, atau pun masuk pit di putaran yang berlainan dengan pembalap lainnya. Banyak pembalap yang menjadi korban akibat hal ini, Lorenzo salah satunya. Dia harus merelakan posisinya yang berada di bawah 10 menjadi lebih dari 15.

Setelah segala kerusuhan yang terjadi di pit, terlihat balapan terbagi menjadi beberapa kelompok karena jarak yang terlalu jauh di antara pembalapnya. Di kelompok terdepan ada Marquez dan Dovizioso, kelompok kedua ada Pedrosa dan Espargaro yang melakukan persaingan sangat sengit, dan di kelompok ketiga ada beberapa pembalap, diantaranya Rossi dan Iannone. Selain ketiga kelompok ini, masih ada banyak pembalap di belakang mereka yang dengan gigih berusaha menaklukkan balapan kali ini.

Hal ini menyebabkan ketidakakuratan yang mungkin telah dilontarkan berbagai orang di seluruh dunia mengenai peraih podium (juara) di balapan kali ini. Akhirnya, Marquez pun berhasil menaklukkan balapan kali ini. Dovizioso pun turut mengikuti keunggulannya, sedangkan Pedrosa berhasil memperkecil jaraknya dengan Dovizioso. Espargaro dan Rossi pun berhasil menaklukkan balapan di urutan ke empat dan lima. Karena kemenangan Marquez di balapan kali ini, Marquez telah berhasil meraih delapan kemenangan beruntun sepanjang tahun 2014.

Headline
Marc Marquez dan Tim (Source: http://olahraga.inilah.com/).

Friday, 13 June 2014

Disaat Keegoisan Terkalahkan

Egois. Hampir semua orang tidak menyukainya. Ia begitu dijauhi, bahkan terkadang dibenci. Tetapi disaat keegoisan itu hadir disaat yang tidak tepat. Patut, sangat patut seharusnya kita mempertanyakan keberadaannya.

Pasti kalian pernah bertanya pada diri kalian sendiri. Egois demi kebahagiaan, apa itu salah? Merasa selama ini keegoisan selalu terkalahkan dengan kepedulian yang ada. Di saat keegoisan itu tersingkir karena tidak ingin melihat yang lain terluka. Tapi di sisi lain, keegoisan itulah yang menggerogoti kebahagiaan di hati kita sedikit demi sedikit.

Keegoisan untuk mendapat apa yang kita inginkan, selalu kita tutupi hanya untuk membahagiakan yang lainnya. Memberi mereka keringanan. Tapi di saat keinginan akan sesuatu yang seharusnya memberikan kebahagiaan untuk kita tidak terbendung lagi, tidak ada yang mengerti akan perasaan kita. Perasaan yang selama ini mungkin terlalu banyak berkorban untuk kebahagiaan yang lainnya.

Manusia pasti ingin selalu melakukan sesuatu yang membuatnya bahagia. Dan di saat hal itu sudah ingin meluap dan tidak terbendung lagi, dan untuk kesekiannya kita harus mengorbankannya. Apa itu tidak sakit? Merelakan sesuatu yang sudah kita nanti sekian lamanya, dan semuanya kandas hanya dalah hitungan detik. Sadis.

Ya, hidup memang selalu penuh pilihan. Egois atau mengalah? Sekiranya, apa yang akan kalian pilih? Egois? Ingin. Pasti kalian ingin melakukannya. Tapi... takut. Itulah rasa lain yang ada di diri kalian. Takut keegoisan tersebut akan memberi beban kepada mereka. Meraka yang mungkin selama ini selalu memberi kalian dukungan tanpa kalian ketahui.

Jika mengalah yang kalian pilih, akan kah ada penyesalan nantinya? Penyesalan karena telah menyerahkan kebahagiaan kalian demi kebahagiaan orang lain. Sedikit atau pun banyak, kalian pasti akan merasakannya.

Terkadang, mungkin kalian akan iri melihat mereka melakukan apa yang seharusnya dapat memberikan kebahagiaan yang lebih dari apa yang kalian dapatkan saat ini. Kalian pun akan berfikir, seandainya mereka ada di posisi kalian, apa mereka masih bisa dengan senangnya tertawa lepas dan bercerita seleluasa itu? Hanya kalian yang merasakan hal ini yang dapat mengetahuinya.

Saat hal itu terlanjur terjadi, ikhlas lah kuncinya. Berusaha mengikhlaskan apa yang seharusnya mungkin bukanlah milik kita. Tapi apa itu akan mudah? Di saat seperti ini, pasti akan banyak air mata serta penyesalan yang keluar dari mata dan hati kalian. Tidak sanggup melihat mereka semua yang dapat melakukan apa yang mereka ingin lakukan dengan bebas. Sedangkan kalian? Kalian terikat, dan berhasil untuk mengalahkan keegoisan kalian.

Selamat. Selamat untuk kalian semua yang telah mengalahkan keegoisan itu. Tapi, cobalah sekali saja kalian memiliki sifat itu untuk memberikan sesuatu yang memang kalian inginkan. Sesuatu yang akan memberi kebaikan kepada kalian. Jangan biarkan keegoisan itu kalian kalahkan untuk mengalahkan kebahagiaan kalian juga. Pasti kalian tidak ingin merasakan sakit untuk kesekian kalinya. Sakit untuk menyerahkan kebahagiaan kalian untuk kebahagiaan orang lain. Aku pikir, sekali saja, disaat kita mulai jenuh dengan mengalah, jenuh dengan merelakan, dan jenuh dengan menyakiti perasaan kalian. Berkatalah tidak, dan keegoisan itu dapat menjadi kuncinya.

Wednesday, 11 June 2014

Brocholy

Big Republic of Chemistry Analyst. Sebuah keluarga baru yang akan menemaniku selama berada di sini. Di tanah rantau tempat ku menuntut ilmu dan hidup yang bisa dikatakan jauh dari keluarga. Aku tidak menyangka hal ini terjadi, merasakan kekeluargaan yang begitu nyata di antara mereka. Serasa tiap detiknya tidak ada yang ingin terlewatkan tanpa mereka. Mereka adalah mereka, mereka apadanya, tidak dibuat-buat, mereka yang seperti merekalah yang membuatku nyaman bersamanya.

Mungkin, sekarang mereka adalah salah satu alasan ku untuk bertahan. Semua tekanan, kesulitan, serta perasalahan yang ku alami di tanah rantau ini bagaikan hilang begitu saja ketika dipertemukan dengan mereka. Suasana kelas yang nyaman, hangat, serta selalu memberi canda tawa yang khas di saat kuliah mulai tersa jenuh. Aku sangat menyukai semuanya.


Membayangkan akan lulus bersama mereka nantinya, itu sangat membahagian. Membayangkan akan kembali bertemu dengan mereka setelah kami semua berkeluarga, itu sangat ku nanti. Entah apa yang nantinya akan kami pikirkan, mengingat kegilaan-kegilaan yang kami lakukan saat ini. Sungguh, ini merupakan salah satu pengalam berharg dalam hidup.

Thursday, 5 June 2014

19 Hari Menuju Try Out AKA 2014

Tidak terasa semester genap akan segera berakhir, UAS pun sudah semakin dekat. Pendaftaran ujian masuk mahasiswa baru pun telah dibuka, setelah sebelumnya dilakukan seleksi untuk calon mahasiswa baru lewat jalur rapor. Ada sekitar 2.500 calon mahasiswa baru yang mendaftar untuk ujian masuk. Hal ini membuktikan bahwa kampus kita sangat diminati di kalangan pelajar.

Untuk membantu calon mahasiswa baru ini, para mahasiswa pun berinisiatif untuk mengadakan Try Out Ujian Masuk Akademi Kimia Analisis yang akan diadakan pada 28 Juni mendatang. “Try Out ini bertujuan untuk mempermudah calon mahasiswa baru untuk menjawab soal, serta mengarahkan dan memberikan gambaran kepada mereka mengenai soal dan juga suasana ujian masuk,” ujar Bifadlika Jannata dari kelas 1E selaku ketua pelaksana acara ini.

Pada dasarnya persiapan untuk TO 2014 ini telah terkonsep 2 minggu setelah terbentuknya kepanitiaan tersebut, hanya saja belum tereksekusi alias terlaksana. “Sampai saat ini panitia acara telah mempersiapkan Round down acara untuk hari H, publikasi telah dilakukan juga ke berbagai tempat bimbel dan SMA yang merupakan sasaran utama kami, selain itu Logistik dan juga konsumsi yang belum terlalu sibuk turut membantu untuk mempublikasikan acara ini,” ucapnya lagi memaparkan kesiapan dari panitia TO ini.

Meskipun publikasi telah dilakukan, tetapi hasilnya belum maksimal. Hingga saat ini (Kamis, 5 Juni 2014 13:09) masih 49 peserta yang terdaftar dari 300 peserta yang ditargetkan. Hal ini juga dikarenakan jadwal kuliah yang padat sehingga pempublikasian pun belum maksimal. Panitia pun akan terus berusaha untuk meningkatkan jumlah peserta selebum pendaftaran ditutup 24 Juni nanti.

Untuk menutupi hal ini, pihak panitia pun meminta bantuan ke akademik untuk meminta daftar calon mahasiswa baru yang mendaftar untuk ujian masuk. Selain itu, penyebaran pamflet di tempat-tempat umum juga telah dilakukan guna meningkatkan jumlah peserta dalam acara ini. "Insyaallah, acara ini akan berhasil 100%,” tutupnya dengan yakin.

Monday, 2 June 2014

Pemilihan Ketua OKPK 2014

Salah satu keberhasilan yang dapat dilihat dari sebuah generasi adalah dengan kemampuannya menciptakan generasi yang baik, dan di OKPK ini pula lah generasi penerus tersebut dibina untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya. Karena bagaimana pun juga bagaimana kampus kita kedepannya merekalah yang menentukan.

Untuk tercapainya tujuan tersebut, kita memerlukan penggerak yang dapat mengkoordinasi acara OKPK ini berjalan dengan lancar. Pemilihan ketua pelaksana ini pun dilakukan untuk menemukan seseorang yang dapat selalu menjadi penggerak serta memimpin acara OKPK ini agar berjalan sesuai rencana.

Malam ini musyawarah IMAKA untuk memilih ketua OKPK 2014 pun dilaksanakan. Setiap perwakilan komponen datang pada musyawarah kali ini. Akhirnya, terpilihlah 5 calon ketua pelaksana OKPK 2014, yaitu Aris, Ahmad Suganti, Erik, Graha, dan Habil. Tentunya untuk pemilihan ketua ini, kita harus memilih seseorang yang mempunyai visi misi, evaluasi, dan inovasi untuk acara ini kedepannya, serta harus memahami tri dharma perguruan tinggi.

Masing-masing calon pun diberikan kesempatan secara bergantian untu menyampaikan tentang keempat hal tersebut selama 15 menit. Banyak sekali inovasi-inovasi yang pastinya membangun ari masing-masing calon yang dapat merubah IMAKA menjadi lebih baik.

Setelah waktu yang diberikan kepada para calon tersebut, forum pun melakukan musyawarah untuk menentukan ketua OKPK 2014. Banyak sekali pendapat serta masukan yang diberikan oleh forum yang dapat kita jadikan pertimbangan dalam pemilihan ketua OKPK ini. Para calon yang sama kuat, menjadikan permusyawarah semakin memanas, karena tida adanya titik temu dalam permusyawarahan ini.

Melalui musyawarah yang panjang inilah terpilih Habil Alroiyan sebagai Ketua OKPK 2014. Salah satu tujuan yang ingin dicapainya untuk OKPK tahun ini adalah membentuk karakter mhasiswa yang memiliki moral baik, semangat berprestasi yang berlandaskan keimanan dan sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi.

Habil pun ingin OKPK tahun ini menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ia ingin membuat mahasiswa baru dapat mengaplikasikan apa yang didapatnya selama OKPK dalam kehidupan sehari-hari. “Pelaksanaan 6S mahasiswa masih kurang,” ucap Habil saat ditanyai mengenai pengaplikasian yang dimaksud. “Sebenarnya, untuk memperbaiki hal tersebut harus dimulai dari kami dan juga kakak tingkat yang lain untuk memberikan contoh yang baik,” tambah Habil kemudian. Habil pun akan berusaha untuk membuat OKPK tahun ini menjadi lebih menarik.

Friday, 14 March 2014

Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah berbahasa dengan menerapkan kaidah baku berbahasa. Jadi sekecil apapun kesalahannya akan terlihat. Kesalahan berbahasa akan terlihat dari makna yang tersampaikan, pengucapan atau pelafalan, serta struktur kebahasaan.

Seperti apa yang telah kita ketahui, sekarang Bahasa Indonesia telah banyak berubah dari yang seharusnya. Kita lebih sering menggunakan bahasa yang tidak layak untuk berbicara sehari-hari. Hal ini menjadikan Bahasa Indonesia perlahan-lahan hilang keberadaannya. Bahkan akhir-akhir ini, jurusan Sastra Bahasa Indonesia di beberapa perguruan tinggi kurang diminati. Mereka beranggapan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang semua orang Indonesia dapat menggunakannya dengan baik dan dengan meraih gelar sarjana di bidang ini, mereka tidak akan mendapat pekerjaan yang menjanjikan.

Pada kenyataannya di kehidupan sehari-hari kita sering menemukan berbagai bentuk kesalahan dalam berbahasa. Hal ini dikarenakan bahasa kita yang sudah tidak murni dan telah melebur bersama bahasa yang lainnya. Bahkan berbahasa Indonesia yang baik dan benar pada saat ini sering dijadikan bahan tertawaan. Kita pastinya akan aneh mendengar seseorang berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Ini merupakan salah satu kunci kelemahan yang kita miliki. Kita belum bisa menghargai apa yang telah kita miliki serta menjaganya.

Di saat sastra Indonesia telah mulai ditinggalkan oleh pewarisnya, di belahan dunia lainnya sastra Indonesia justru memiliki peminat yang cukup banyak. Negara-negara barat sudah lama membuka jurusan sastra Indonesia di beberapa perguruan tinggi. Apabila hal ini terus berlangsung, apakah kalian bisa bayangkan apa yang akan terjadi kedepannya? Mungkin saja semua sastrawan di Indonesia merupakan orang-orang luar negeri. Jika ini terjadi, apa kita tidak malu? Seharusnya kita yang mengajarkan ke mereka cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi ini menjadi sebaliknya.

Sekarang coba kita perhatikan para penjabat dan kaum menengah ke bawah di Indonesia. Adakah perbedaan di antara mereka dalam hal berbahasa? Jika kalian mengamatinya, para penjabat selalu berusaha untuk menggunakan B. Indonesia yang baik dan benar, sedangkan masyarakat kaum menengah ke bawah lebih menggunakan bahasa sehari-hari yang dileburkan dengan bahasa asing.

Dari perumpamaan tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa berbahasa Indonesia yang baik dan bener justru akan menambah martabat kita menjadi masyarakat Indonesia yang lebih tinggi. Apabila kita bangga bisa fasih berbicara bahasa Inggris, mengapa tidak demikian dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar?

Wednesday, 26 December 2012

Kehidupan

Dalam kehidupan ini, tidak semua yang kita inginkan dapat terpenuhi. Tidak setiap harinya kita merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti. Membuat hidup ini terasa lebih berwarna. Orang-orang datang dan pergi di kehidupan kita. Apa yang sekarang sedang kita rasakan mungkin tidak akan lagi dirasakan esok, lusa, dan seterusnya. Kehidupan ini serba tidak pasti. Apa saja yang kita anggap benar bisa saja salah, sedangkan apa yang kita anggap salah bisa menjadi sesuatu yang benar.

Hidup ini memang jauh lebih keras dari apa yang kita bayangkan. Saat kita mendapat cobaan yang begitu berat, kita merasa putus asa, kita merasa tidak bisa melewatinya. Kenapa harus berfikir seperti itu? Padahal Allah sudah menjanjikan suatu hal yang pasti. Allah tidak akan memberi cobaan kepada hambanya melebihi dari kemampuan hambanya. Lalu apa yang membuat kita tidak bisa melewatinya? Rasa putus asa itulah penyebabnya. Karena dari dalam hati, kita sudah menanamkan kata-kata, "Aku pasti tidak bisa menghadapinya".

Cobalah kalian berfikir untuk mengambil nilai positif dari hal itu, berfikirlah kalau kalian bisa menghadapinya. Cerita ini akan menjadi beda pada akhirnya. Tapi dari cobaan inilah kita menjadi manusia yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Sebenarnya dari kehidupan inilah kita belajar menjadi orang yang lebih baik. Kita diberi cobaan, tentu untuk menjadikan diri kita lebih kuat. Kita mendapat kesalahan, tentu untuk mengajarkan kita hal yang benar. Kita berpisah dengan seseorang, tentu karna kita akan mendapatkan orang yang jauh lebih baik darinya. Dan kematian, ia mengingatkan kita bahwa hidup ini singkat. Selagi memilikinya, manfaatkanlah dengan baik.

Tidak ada seorang pun yang tau apa yang akan ia hadapi di kemudian hari, maka bersiaplah untuk menghadapinya. Siapkanlah bekal yang cukup, yaitu pelajaran yang telah kalian dapatkan dari hari sebelumnya.

Sunday, 16 December 2012

Cerita Pendek: Di Balik Senyum Bunda


“AAA!”

Keringat membasahi sekujur tubuhku, mimpi malam ini benar-benar menyiksaku. Sebenarnya sudah lama aku mengalami semua mimpi ini. Mimpi ini seperti sebuah misteri yang meminta untuk dipecahkan. Di dalamnya, aku melihat seorang anak kecil, tapi aku tidak tau siapa dia, wajahnya pun tidak terlihat jelas. Dan kecelakaan itu, aku terbangun tepat sebelum sebuah mobil menghantam anak kecil itu. Siapa dia? Siapa anak kecil itu?

“Astagfirullah....”

Aku melihat ke samping ranjang ku, terlihat di sana Vera –kembaranku- tertidur dengan lelapnya. Jam menunjukkan pukul 02:05, aku menuju ke kamar mandi yang memang terletak di kamar kami. Ku basuh wajah ku dengan air wudhu, lalu melakukan beberapa rakaat shalat malam yang memang aku sering lakukan ketika terbangun seperti ini.

Setelah shalat aku pun memutuskan untuk mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Saat melewati kamar Bunda, aku melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Aku dekati pintunya, dari balik pintu aku bisa melihat Bunda bertahajud.

Bunda, beliau adalah orang terpenting di hidupku, semenjak kepergian Ayah 10 tahun silam, Bunda lah yang melakukan semuanya untuk kehidupan kami bertiga. Ya, Bunda memang tidak sesempurna aku dan Vera, beliau hanya memiliki satu mata pada tubuh bagian kanannya. Tapi, aku teramat bersyukur, karena Bunda sama seperti orangtua yang lainnya. Beliau dapat memberikan kami kebahagiaan, menyayangi kami, dan juga memiliki hati yang lembut bagai sutra.

Paginya, seperti biasa, aku bergegas bersiap untuk sekolah, saat keluar kamar Bunda sudah terlihat berbenah di meja makan.

“Assalamu’alaikum, Bunda,” salamku sembari memeluknya.
“Wa’alaikum salam,” balas bunda balik memelukku dan mendaratkan sebuah kecupan di keningku.
“Vera belum siap?”
“Belum, Bun, gak tau tuh lama banget pake kerudungnya,”
“Ya, udah, kamu makan dulu, biar Bunda bantu dia,”

Aku mengangguk, perlahan Bunda menjauh menuju kamarku dan Vera.

”Udah lah, Bun, gak usah. Aku bisa sendiri kok,”

Aku tersentak mendengar suara Vera. Aku meninggal makanan yang hendak aku makan dan menuju kamar.

“Udah, ya, Bun, Vera bukan anak kecil lagi!” ucapnya lagi masih dengan nada yang tinggi.
“Iya, Bunda tau, maafkan Bunda ya,” balas Bunda masih dengan senyumnya yang cantik sembari membelai kepala anak sulungnya. Tetapi lagi-lagi Vera tidak menyukainya, dan menepis tangan Bunda.
“Ver, kasar banget sih sama Bunda. Kalo gak suka ya udah, tapi gak usah kayak gitu,” aku pun akhirnya turut membuka suara.
“Apaan sih, gak usah ikut-ikutan deh, udah ayo cepet makan! Nanti telat,” ajaknya sembari menarik lengan kiriku.

Alhamdulillah, pukul 06:27 kami sudah sampai di sekolah. Sekolah kami bukanlah sebuah sekolah islam, melainkan sekolah umum negeri. SMA Negeri 46 Jakarta. Belum genap setahun kami bersekolah di sini, karena kami memang masih duduk di tingkat pertama.

Kami menelusuri lorong menuju kelas X.3 yang berada di ujung. Bel pun berbunyi, tepat setelah kami memasuki kelas.

“Heh, lihat tuh ada si kembar mata satu!”

Deg, aku tersentak. Lagi-lagi hal ini terjadi. Aku tidak suka kalau sudah berada di posisi seperti ini. Aku mengambil duduk yang tidak begitu dekat dengan Vera, karena guru-guru yang menginginkannya. Katanya agar lebih mudah untuk mengenali kami.

Anak-anak nakal itu masih terus berceloteh, mungkin menunggu reaksi Vera yang biasanya sering menanggapi setiap omongan  mereka. Dan benar saja...

“Udah deh, lo! Bawel banget sih! Gak bisa ya ngeliat orang tenang!”

Vera membuka suaranya, dan perang mulut pun terjadi. Tak ada yang bisa aku lakukan. Hal ini mulai terjadi semenjak kami bersekolah di sini. Padahal sewaktu berada di sekolah menengah dulu, kami tidak pernah sekalipun mengalami hal seperti ini. Mungkin, karena dulu sekolah kami adalah sekolah islam yang semua muridnya adalah perempuan.

Sikap Vera terhadap Bunda pun terlihat berubah, dia sering berlaku tidak sopan dan kasar kepada Bunda. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Tapi dengan sabar Bunda menghadapinya, Bunda selalu tersenyum menanggapi setiap tingkahnya.

Hari demi hari perilaku anak-anak yang sering mengejek Bunda kami itu semakin kelewatan. Mereka bahkan berani mengatakan hal-hal yang tidak sopan di depan Bunda. Vera, perilakunya akhir-akhir ini pun semakin kasar kepada Bunda, bahkan tidak hanya perilakunya, lisannya pun demikian.

Pada suatu malam, aku terduduk di meja belajarku, melihat tumpukan buku yang terpampang tidak beraturan. Menjadi anak sekolah menengah atas memang melelahkan, au harus mulai merelakan waktu istirahatku unuk mengerjakan semua ini. Kamar yang tergolong besar ini terasa sepi karena salah satu penghuninya sedang tidak berada di tempat. Ukuran kamar ini memang sengaja dibuat oleh almarhum Ayah dengan ukuran 2 kali kamar normal. Karena tau nantinya kami lah yang akan menempatinya.

Aku keluar kamar untuk mencari kegiatan lain, setidaknya aku bisa terlepas sejenak dari semua tugas-tugas itu. Aku berjalan menuju kamar Bunda, kali ini kamar Bunda tertutup rapat. Dengan ragu, aku menekan handle pintu dan sedikit mendorongnya, takut-takut mengagetkan Bunda.

Kaget. Itu satu kata yang mungkin dapat mewakili ekspresiku saat melihat Bunda. Bunda terduduk di pinggir kasurnya, menatapi sebuah figura kayu yang terdapat beberapa ukiran  di bingkainya. Walaupun sudah tua, figura itu masih terlihat sangat terawat oleh tangan Bunda. Walaupun foto di dalamnya tidak terlihat dari posisiku berdiri sekarang, tapi aku tau pasti foto itu. Itu adalah foto aku, Vera, Bunda, dan Ayah saat kami masih duduk di bangku sekolah dasar.

Bunda mengelus lembut isi figura yang memampang foto orang-orang yang dicintainya. Sesekali terlihat air mata terjatuh dari mata beningnya. Walaupun Bunda hanya memiliki satu buah mata, tapi mata itu terlihat begitu indah dan cantik.

“Yah, sekarang anak-anak kita sudah mulai dewasa. Mereka telah tumbuh menjadi anak-anak yang cantik. Dan kalau Ayah masih ada, Ayah pasti akan bangga pada mereka. Vira dan Vera adalah harta karun yang paling berharga buat Bunda, Bunda sangat bersyukur karena Allah telah menitipkan mereka pada kita. Bunda janji, sampai akhir umur Bunda nanti, Bunda akan terus berusaha menjadi orang tua yang baik buat mereka.”

Air mataku menetes kala itu, aku merasakan apa yang dirasakan Bunda. Pasti sangat berat baginya untuk memenuhi kebutuhan kami berdua. Walaupun hidup kami sekarang bisa dikatakan lebih dari cukup, tapi ini semua adalah kerja keras Bunda. Dan aku sangat mencintai Bunda, Bunda yang selalu memberi yang terbaik untuk kami berdua.

Aku mengurungkan niat untuk menyapa Bunda, dan perlahan kembali menarik handle pintu agar tertutup. Aku berjalan kembali menuju kamar, aku terduduk di pinggir tempat tidur. Dalam benakku terbayang wajah Bunda, kenapa semuanya begini? Kenapa semuanya berubah?

Aku memutuskan untuk berbaring dan memejamkan mataku, sebuah bayangan kini mengisi otak ku. Aku melihat dua orang anak kecil disana. Memang tidak terlihat jelas, tapi aku yakin mereka sedang bersenang-senang dengan sesosok orang dewasa yang nampak seperti Ibunya. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak, dan setibanya di jalan besar. Salah seorang anak tadi menyeberangi jalan raya, dan....

“Aaa!” aku berusaha kembali mengatur nafasku.
“Astagfirullah, aku memimpikan hal itu lagi.”

Ternyata sudah pagi, dan Vera pun masih tertidur lelap di ranjangnya.  Aku hendak turun dari kasur ketika aku merasakan pening di kepalaku. Aku memegang kening dengan punggung tanganku, jujur, kurasa suhunya cukup tinggi.

Aku tetap memaksakan langkah menuju tempat tidur Vera dan membangunkannya. Vera terbangun, dan aku membiarkannya menggunakan kamar mandi terlebih dahulu. Aku terduduk di pinggir kasurnya, rasa pening itu terasa kian menghantuiku.

“Udah tuh, cepet mandi gih, biar gak telat,” ucap Vera sekeluarnya dari kamar mandi. Aku mengangguk.
“Lo sakit?” tanyanya, kini Vera telah berada di sampingku. Dia memeriksa suhu tubuhku dengan punggung tangannya.
“Astagfirullah, Vir, lo panas banget! Mending gak usah masuk deh, entar gue yang izinin.”

Seketika Vera langsung menidurkanku di kasurnya. Pelahan kumulai pejamkan mata yang kian lama terasa kian berat.

Beberapa jam kemudian aku mulai terbangun dari istirahatku yang terasa sangat panjang. Kurasakan sebuah kain handuk halus berada dikeningku, dingin. Aku masih berada di ranjang Vera, kulihat ada semangkuk air di meja rias samping ranjangnya. Pasti air itu yang digunakan untuk menurunkan suhu tubuhku beberapa jam terakhir ini.

Perlahan aku bangkit, menaruh kain handuk yang membalut keningku ke mangkuk berisi air itu, lalu keluar kamar untuk menemui Bunda. Aku merasa suhu tubuhku tidak sepanas tadi pagi.

Pintu kamar bunda terbuka lebar, sepertinya Bunda sedang tidak berada dikamarnya. Mungkin sedang di kamar mandi atau entah kemana. Kuliat sebuah album terbuka lebar di atas kasurnya, aku tertarik lalu mendekatinya. Dari halaman album yang terbuka itu aku melihat 2 bayi berukuran satu halaman penuh, satu di halaman kiri, dan yang satu lagi di halaman kanannya. Aku yakin kalau itu adalah aku dan Vera.

Aku terus membalik halaman demi halaman album itu. Banyak sekali ekspresi yang kami tunjukkan pada setiap foto. Sampai pada halaman terakhir, aku melihat sebuah foto yang mengisi satu halaman penuh album itu. Itu adalah foto aku, Vera, Ayah, dan Bunda. Ada yang aneh, kulihat lekat-lekat wajah Bunda pada foto itu. Wajahnya terlihat sangat cantik, dan beliau memiliki sepasang mata. Sempat terbesit di benakku bahwa itu bukan Bunda, tapi itu memang Bunda. Aku tidak mungkin salah mengenalinya.

“Vira...”

Suara Bunda sedikit mengagetkanku. Aku berbalik melihat Bunda yang baru saja masuk, Bunda terlihat kaget melihatku memegang album ini.

“Kamu...”
“Bunda, foto ini....” aku menunjuk wajah Bunda pada foto itu. Bunda perlahan duduk di sampingku.
“Bun, aku sama sekali tidak mengingat masa kecilku, dan maaf, Bun, aku juga tidak mengingat hal ini,”
“Itu wajar sayang, waktu itu kau masih sangat kecil,” ujar Bunda sambil membelai lembut rambutku.
“Bunda pernah mengalami sebuah kecelakaan, dan kecelakaan itu membuat Bunda harus kehilangan salah satu mata Bunda. Tapi Bunda tetap bersyukur, karena Allah masih mengizinkan Bunda untuk terus bersama kalian,” jelas Bunda sambil terus memasang senyum di wajahnya.

Aku terkejut. Apakah ini ada hubungannya dengan mimpiku akhir-akhir ini. Kecelakaan. Tapi, anak itu yang mengalami kecelakaan, bukan Bunda. Lalu, apa hubungannya dengan Bunda? Tanyaku dalam hati.

“Kenapa, sayang?” tanya Bunda menyadarkanku.
“Tidak, Bun, hanya saja... akhir-akhir ini aku sering mengalami mimpi buruk,”
“Mimpi? Mimpi apa?”

Aku menceritakan mimpi yang selama ini sering menghampiriku, mimpi yang terasa begitu nyata. Kulihat perlahan-lahan raut wajah Bunda berubah. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Di akhir ceritaku, yang beliau lakukan hanya tersenyum dan memeluk hangat tubuhku.

“Itu hanya mimpi sayang, tidak usah kamu fikirkan ya.”
“Tapi mimpi itu terasa begitu nyata, Bun. Apa ada sesuatu yang Bunda tutupi dariku?”
“Hah? Tidak sayang, tidak. Percayalah.”
“Tapi,”
“Sudahlah, lebih baik kamu istirahat ya, supaya besok bisa masuk sekolah lagi.”

Aku mengangguk.

BRAAAK!!! Tiba-tiba terdengar suara pintu terbanting. Aku melihat jam dinding, ini sudah waktunya pulang sekolah. Apa itu Vera?

Aku dan Bunda keluar kamar, menghampiri Vera yang berjalan ke ruang tengah.

“Assalamu’alaikum,” ucap Bunda melihat anak sulungnya itu datang.
“Wa’alaikum salam,” jawabnya terdengar kasar. Hei, tunggu. Ada yang salah di sini. Bukan Bunda yang seharusnya memberi salam, tetapi Vera!
“Sudah pulang sayang...” Bunda menghampirinya, lalu melayangkan sentuhan lembut miliknya di kepala Vera. Vera menepisnya.
“Vera!” bentakku agak tertahan.
“Udah ya, Bun. Bunda gak usah bersikap kayak gini lagi ke aku!”

Aku melihat raut wajah Bunda, wajah itu terlihat sangat tersakiti.

“Heh, lo kenapa sih, Ver? Pulang-pulang langsung marah-marah kayak gini. Emang salah Bunda apa sama lo?”
“Salah Bunda? Lo mau tau salah dia apa? Dia cuma punya satu mata, Vir! Sa-tu!” ucap Vera masih dengan nada tinggi sambil menunjuk Bunda menggunakan jari telunjuknya.

Saat itu aku benar-benar kaget, bagaimana bisa dia berbicara dan bersikap seperti itu ke Bunda. Aku melihat Bunda, bibirnya masih tetap menorehkan senyum. Tapi matanya tidak berkata demikian.

“Astagfirullah, Ver, lo ngomong apa, sih? Lo harusnya sadar, Ver! Kita lahir dari rahim Bunda! Bunda yang lo bilang gak sempurna ini! Tapi lo harus sadar, ketidaksempurnaan Bunda itulah yang menjadikan kita gadis yang sempurna seperti ini!” aku tidak bisa membendung air mataku lagi, air mata itu kini mengalir begitu saja seiring dengan kata-kata yang keluar dari mulutku.

Keheningan seketika tercipta di ruangan ini. Kini hanya tinggal isak tangisku saja yang terdengar mengisi keheningannya. Kulihat Vera menunduk. Aku tak tau untuk apa, mungkin ia mencoba untuk mencerna kata-kataku.

“Gue capek, Vir, gue capek,” ucapnya dengan suara yang melemah. “Gue capek harus dicemooh terus sama mereka! Gue capek ngedenger kata-kata itu dari mereka! Kata-kata itu selalu menghantui gue! Dan gue ngerasa itu adalah kesalahan terbesar yang pernah gue miliki!” lanjutnya dengan suara yang semakin meninggi, lalu ia berlari keluar rumah. Bunda mengejar Vera. Aku masih tertegun dengan semua kata-kata Vera. Beberapa saat kemudian aku mulai mengejar Bunda dan Vera.

Sepertinya aku kehilangan jejak mereka, aku tidak melihat mereka lagi sekarang. Tapi kaki ku serasa membawaku ke sini, ke sebuah taman mungil yang berada di tengah kota. Dari kejauhan aku melihat sosok Bunda dan Vera. Vera duduk di bungku taman menghadap arah matahari terbenam. Perlahan Bunda menghampirinya, masih kulihat wajah Vera yang berlinangan air mata, dan Bunda? Bunda masih terus tersenyum duduk di sampingnya.

Aku pun mulai mendekati mereka. Aku bisa mendengar percakapan mereka dari tempat aku berdiri sekarang.

“Apa itu?” tanya Bunda menunjuk pada sekelompok burung yang terbang di langit yang mulai menguning. Vera tidak memperdulikannya.
“Apa itu?” tanyanya lagi.

Aku melihat burung itu, melihat sekelilingku, sepertinya aku tidak asing dengan tempat ini. Dan kejadian antara Bunda dan Vera pun rasanya seperti pernah ku alami. Tiba-tiba satu demi satu bayangan di kepala ku mulai terkumpul dan terlihat semakin jelas. Mimpi itu! Ya, mimpi itu! Ternyata orang yang ada di mimpi itu adalah aku, Vera, dan Bunda. Mimpi itu adalah bagian dari masa kecilku. Masa kecil yang selama ini tidak pernah kuingat sebelumnya.
            
mata Bunda, tapi.... Astagfirullah, itu mata Vera! Vera yang mengalami kecelakaan itu! Vera harus kehilangan salah satu matanya, dan Bunda... Bunda yang mendonorkan satu matanya itu untuk Vera! Ya, Allah, kenapa aku bisa melupakan semua itu?

Air mata terus mengalir di pipiku, perlahan... aku melangkah gontai ke arah Vera dan Bunda. Aku berlutut di hadapan Vera. Vera terkejut melihatku. Aku mengusap lembut pipi kirinya dengan tangan kiriku. Aku menatap lekat mata yang kini berada tepat di atas tanganku.

“Apa kau tidak mengingatnya?” tanyaku memecah kesunyian. Vera masih terlihat bingung.
“Mata ini, taman ini, kecelakaan itu, apa kau tidak mengingat semuanya?” lanjutku.
Vera terlihat sedikit tersentak. Aku yakin dia mulai mengingat sesuatu, wajahnya mulai melunak. Dia menatapku, tapi aku tau pikirannya tidaklah berada di situ. Sesaat kemudian, kedua bola matanya membesar. Seakan ia sadar telah melakukan suatu kesalahan yang besar.

Aku bangkit, menundukkan kepalaku dalam-dalam. Vera menatap Bunda, entah apa yang ia fikirkan.

“Itu karna aku?” tanyanya kepada Bunda dengan nada yang hampir tidak terdengar. Kami semua tau apa maksud pertanyaannya itu.
“Ini hanya sebuah kecelakaan, sayang,” jawab Bunda masih terus menorehkan senyum pada bibirnya.
“Mata ini...” Vera menunjuk mata kirinya, “Milik Bunda,” lanjutnya.

Hening.

“Bun, aku,”

Belum selesai Vera menyelesaikan kata-katanya, Bunda sudah terlebih dahulu menariknya ke dalam pelukannya.

“Maafkan aku, Bun, maaf,” ucapnya berulang kali sambil terisak di tengah tangisnya yang kian menjadi. 

Demikian juga dengan air mataku.

“Sudahlah, ini semua bukan salah siapa-siapa. Ini sudah takdir dari Allah. Ini takdir kita semua yang sudah Allah rencanakan. Inilah yang terbaik untuk kita semua.”
“Tapi, aku,” sela Vera masih di tengah isakannya.
“Sudahlah, Vera,” ucap Bunda lembut sambil mengelus rambutnya.

Vera membalas pelukan Bunda, tangisnya terdengar semakin kencang.

Bunda menatapku, ia merenggangkan tangan kanannya. Aku langsung menghampiri dan memeluknya. Sore itu telah mengubah semuanya. Vera sudah bisa menerima keadaan Bunda, bahkan kini ia lebih bersabar menghadapi setiap cemoohan itu.

Aku sangat bersyukur kepada Allah swt. karena Beliau memberikanku keluarga yang sangat menyayangi dan memberiku kenyaman. Bagaimanapun juga, Bunda adalah anugerah terindah yang pernah Allah berikan kepadaku, Subhanallah....


Chytra Oktaviany

Friday, 23 November 2012

Ibu

Hatiku tidak dapat berbohong
Mataku tidak dapat berpaling
Lisanku tidak dapat berdusta
Dan pendengaranku tidaklah tuli

Hatiku selalu meneriakkan namamu
Hati ini selalu menginginkan kelembutanmu
Menanti untuk selalu berada di pelukanmu
Menanti setiap kehangatan yang selalu kau beri

Mataku selalu menatapi keberadaanmu
Menatapi tubuh yang selalu memelukku
Tubuh yang selalu memberiku kenyamanan
Kaulah sosok penyempurna hidupku

Lisanku, pasti pernah menuang perih di hatimu
Membuat setiap air matamu terjatuh
Tapi kau tak pernah membenciku
Karna bagimu, aku adalah bagian darimu

Pendengaranku tidak akan salah mengenalimu
Suara pembuat teduh jiwa ini
Engkaulah penolong setiap kesulitan hidupku
Engkaulah penyempurna setiap kelemahanku

Ibu....
Detak jantungmu, memberiku hidup
Nadimu, memberiku kekuatan
Terimakasih, atas segala pengorbananmu

Saturday, 14 April 2012

Different Time, Different Story

Sering sekali keluarga ku bercerita tentang kejadian-kejadian yang sering terjadi saat aku masih kecil. Saat sedang menceritakannya, ada raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka. Wajah yang sama saat melihat ku bertahun-tahun yang lalu. Saat cerita telah sampai pada titik akhir, pecah lah tawa membahana di seluruh ruangan. Dengan wajah menahan tawa, aku berusaha menyangkal semua cerita lucu itu. Walaupun aku menyangkal, tapi dalam hati aku percaya kalau semua yang diceritakan mereka benar adanya. Bagaimana pun juga, mereka lah yang selalu bersama-sama dengan ku, bahkan saat aku belum dilahirkan sekalipun.

Dan kini, aku menjadi saksi mata tentang masa-masa Abel masih kecil. Mungkin jika dia sudah besar nanti, dan aku bercerita tentang semua hal tentangnya, ia akan bereaksi sama seperti ku. Berusaha mengelak. Tapi itulah hidup, terkadang orang lain justru lebih mengerti dirimu yang sebenarnya di saat kau tak menyadarinya.

Aku jadi teringat cerita Mama yang mengatakan kalau aku senang sekali mendengarkan DVD lagu anak-anak yang diberikan Mama. Lebih dari 20 keping DVD sudah kumiliki waktu itu. Dan kini, saat Abel menginjak usia 2 tahun, aku serahkan semua DVD itu padanya. DVD yang selalu ku lihat untuk menunggu Mama dan Papa pulang. Atau bahkan menunggu mereka semua menghampiri ku da mengajak bercanda. Sangat mudah bagi mereka untuk membuat ku diam ditempat. Cukup menghidupkan DVD Player dan menyediakan Mie Instan dengan 2 buah telur mata sapi. Sungguh aku tertawa mengingat betapa polos dan rakusnya aku pada masa itu.

Beda masa, pasti akan memiliki cerita yang berbeda pula. Kini aku sudah tidak pernah melihat lagi lagu anak-anak diputar di televisi. Aku memang sering melihat anak-anak yang bernyanyi di sana, tapi mereka tidak menyanyikan lagu yang pantas. Semua yang mereka bawakan seakan tidak sesuai dengan umur mereka. Aku sempat berfikir, kenapa pertelevisian indonesia kini tidak seperti dulu? Pada untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan sangat memerlukan musik-musik dan dapat merangsang perkembangan otaknya, lagu-lagu yang sesuai dengan umur mereka masing-masing. Ingat satu hal, "apapun yang mereka terima sekarang, akan menentukan bagaimana mereka di masa yang akan datang".

Mungkin inilah yang dinamakan perkembangan teknologi, tapi apakah harus dengan membiarkan adik-adik kita mendengar semua lagu dan film yang tidak pantas untuknya? Kini adalah giliran kita untuk memperbaikinya.



Good Children
Bad Children


"Mulailah dari sesuatu yang kecil, karena sesuatu yang kecil itu bisa saja merupakan sesuatu yang sangat besar"