Showing posts with label Love Story. Show all posts
Showing posts with label Love Story. Show all posts

Tuesday, 1 July 2014

Ketika Hati Tidak Saling Memiliki

Pernahkah kalian mengagumi seseorang, lalu menginginkan kalian memiliki hatinya? Aku rasa setiap orang pasti pernah mengalaminya. Di saat hati kita telah memilihnya, tetapi dia tidak mempedulikannya, di saat itulah hati kita tidak saling memiliki. Ya, mungkin saja hati kita ini telah menjadi miliknya, tetapi entah sampai kapan kita harus terus menunggu untuk menjadikan hatinya milik kita. Tidak akan ada kata pasti sebelum hal itu terjadi.

Saat sang pemilik hati ini mendekati pemilik hati yang lainnya, apa yang bisa kita perbuat? Sampai kapan kita akan bersabar? Hati kita pasti akan meronta, ia merasa cemburu, kecewa, dan tentu sakit atas kehadiran hati lainnya. Tetapi apa daya kita? Kita tidak dapat melakukan apa pun. Hati tersebut belum memiliki tempat berlabuh, ia berhak memilih siapa saja untuk melabuhkannya. Sedangkan kita? Hati kita serasa telah dimilikinya.

Hati kita dan hatinya memang tidak saling memiliki sampai detik ini. Hal itulah yang membuat rasa sakit ini terus bertambah. Tidak adanya kata memiliki untuk sebuah hubungan menjadikan hati kita risau dan takut. Takut jika hati yang telah dipilihnya menjadi milik orang lain. Rasa ini akan terasa jauh lebih besar dibanding dengan dua hati yang telah saling memiliki.

Hati yang saling memiliki seperti terhubungan dengan sehelai benang. Saat hati yang satu berdekatan dengan yang lainnya, akan selalu ada benang yang membuatnya teringat dengan hati lainnya, hati yang telah dia miliki. Jika kedua hati yang telah saling memiliki ini saling menjaga, mereka tidak akan mungkin saling menyakiti, tidak akan saling mendekati hati yang lainnya.

Sakit, melihat hati yang telah memiliki hati kita berkelana untuk mencari hati lain yang mampu membuatnya berlabuh. Tetapi apakah mereka tidak sadar bahwa hati yang membuatnya ingin berlabuh belum tentu menerimanya? Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Ya, tentu saja berusaha untuk membuat dirinya berlabuh. Bagaimana pun caranya.

Hati ini tidak akan memikirkan hal lainnya, kecuali bagaimana cara membuat dirinya berlabuh. Padahal, tanpa dia ketahui, hati kita telah dimiliki olehnya. Tanpa dia ketahui pula, saat dia berusaha mendapatkan sebuah pelabuhan, ada hati lain yang tersakiti, tergores, bahkan terasa teriris menyaksikannya.


Mulai sekarang, apa salahnya jika kita menjaga apa yang telah kita miliki? Karena apa yang kita inginkan belum tentu menjadi yang terbaik untuk kita. Biarkan hati ini memilih dengan sendirinya, biarkan kata “saling memiliki” ini tumbuh karena telah terbiasa. Ya, biarkanlah sebuah cinta tumbuh karena terbiasa, karena sebuah kenyamanan, dan karena sebuah kepercayaan. Biarkanlah sesekali cinta tumbuh dengan caranya, tidak dengan kita yang memilihnya.

Saturday, 11 May 2013

Berpisah 60 Tahun, Pasangan Romantis Ini Akhirnya Menikah


Kami Akhirnya Bertemu Setelah Terpisah Sangat Lama


Sebutlah ini cinta sejati, kekuatan cinta ataupun takdir, karena cinta pertama yang ditentang orang tua pada akhirnya membawa pasangan ini pada pernikahan. Pernikahan tersebut harus menunggu sangat lama, terpisah 60 tahun.

Pasangan berbahagia ini adalah Eileen dan Warner Billington, dilansir Dailymail. Usia mereka saat ini adalah 78 dan 79 tahun. Ketika berusia remaja, sekitar 16 dan 17 tahun, keduanya saling jatuh cinta dan menjadi sepasang kekasih. Cinta mereka di masa itu terhalang restu ayah Eileen. Ayah Eileen beranggapan bahwa putrinya masih terlalu muda untuk menikah.

Pada akhirnya, Eileen dan Warner berpisah dengan hati yang sama-sama terluka. Mereka memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing tanpa kontak. Keduanya menikah dengan orang yang berbeda, mereka memiliki anak, merayakan ulang tahun pernikahan emas, dan berbahagia menjadi kakek dan nenek. Namun di lubuk hati terdalam, mereka tidak dapat saling melupakan.


Keduanya tidak pernah berhubungan, tetapi masih menyimpan rasa cinta. Bahkan Eileen tetap menyimpan foto masa mudanya bersama Warner. Ellen meminta adiknya menyimpan foto tersebut karena takut suaminya akan merusak foto itu.

Ellen menikah dengan Jack Lenton, mereka memiliki dua anak. Jack meninggal di tahun 2006. Sedangkan Warner menikah dengan Gillian pada tahun 1957, mereka memiliki tiga anak. Gillian meninggal pada tahun 2010.

Setelah menjadi duda dan janda, keduanya tetap tidak berhubungan. Tetapi takdir berkata lain, mereka akhirnya bertemu kembali dengan bantuan teman. Walaupun sudah terpisah sangat lama dan telah memiliki kehidupan masing-masing, keduanya tetap saling mencintai. Setelah bertemu, Eileen dan Warner menyadari bahwa mereka ingin menghabiskan masa tua bersama, dengan pernikahan.


Pada tanggal 6 Desember 2011, mereka akhirnya menikah dan menjadi pasangan suami istri. Perpisahan selama 60 tahun dan rasa cinta yang terpendam akhirnya menemukan jalan yang indah.

“Kami berdua sering berpikir apa yang akan terjadi jika segala sesuatu yang kami jalani berbeda (mendapat restu sejak masa remaja). Tapi sekarang kami sudah bersama. Kami sama-sama sehat dan bugar di usia ini dan ingin menatap masa depan, bukan masa lalu,” ujar Warner.

Sebuah kisah yang sangat manis. Cinta akan menemukan jalannya, tidak dengan kawin lari, bunuh diri, atau memutuskan hubungan dengan orang tua. Kadang.. penantian menghasilkan buah yang sangat manis.


Source: http://www.vemale.com/

Monday, 1 April 2013

Yakin Kamu Rela?

Baru aja, bener-bener baru. Ada seorang anak galau yang cerita sedikit masalahnya ke gue. Dan di akhir, pembicaraannya, dia ngasih gue sebuah link. Sedikit-banyak link itu membuat gue bergidik. Bukannya gimana, tapi hal itu rasanya bener-bener kayak apa yang gue rasain sehari-hari. Dan orang galau itu pun ngaku kalo perasaannya dia sekarang sama kayak yang ada di posting itu. Kalian penasaran? Ini posting selengkapnya :)

-----==--------------------------------==-----

Yakin Kamu Rela?




Aku lupa sudah berapa kertas dari bukuku yang kutuliskan namamu di atasnya.
Masa-masa sekolah, layaknya yang digambarkan di televisi, selalu penuh dengan kenangan-kenangan. Masa-masa itu yang paling berkesan. Ada yang diisi dengan kebahagiaan, tapi berakhir dengan kepahitan.

Setiap pagi, mungkin ada dari kamu yang begitu semangat datang ke sekolah cuma karena ada dia yang dipuja. Sesampainya di sekolah, langsung sepik-sepik lewatin kelas dia, cuma pengin tau dia udah datang atau belum. Malahan ada juga yang selalu merhatiin tempat parkir, biar tau berarti dia udah datang kalau ada motor dia terparkir di sana.

Waktu upacara, nggak ada lagi kerjaan selain nyari ke sekeliling, dia yang dipuja berdiri di sebelah mana. Beberapa kali merasa jodoh, cuma karena bisa berdiri sebarisan sama si dia. Ya, secret admirer memang terlalu gampang bahagia.

Waktu belajar, yang dibayangin cuma dia. Bahkan ada yang cukup berani nulis namanya di halaman belakang buku catatan, meski hanya inisial.

Ketika udah nggak tahan lagi sama pelajaran yang gurunya lebih membosankan, mulai sok-sokan izin ke toilet dan sengaja lewat kelasnya. Kalaupun si dia lagi nggak ada di kelas, ngeliat tasnya aja udah seneng.

Saatnya istirahat, suka banget diem-diem ngeliatin dia bercanda sama temen-temennya. Ngeliatin dia senyum dan ketawa, memancing kamu juga ikut tersenyum… lalu membuang muka sejauh-jauhnya ketika dia sadar sedang dipandangi.

Buat yang cowok, seringkali menahan panas hati ketika si dia yang jadi inceran digodain sama anak cowok lain, apalagi kakak kelas. Buat yang cewek, seringkali meleleh ketika sang pujaan lagi gitaran dan nyanyi bareng temen-temennya… padahal nyanyian itu bukan buat dia.

Terasa begitu membahagiakan di sekolah, selama ada dia. Bahkan libur sehari pun rasanya terlalu lama.

Sayangnya, masa-masa itu akan segera berakhir.
Memang sakit mengetahui seseorang yang kamu sayang akan pergi, dan kamu gak bisa berbuat apa-apa.
Beberapa suka sama seniornya di sekolah, dan sebentar lagi UN. Ada juga yang sebagai senior, terus suka sama juniornya. Dari kedua hal itu, ada satu persamaan, yaitu: sama-sama gak akan bisa ngeliat sang pujaan lagi.

Pertanyaannya adalah…

Apa kamu rela dia pergi tanpa tau seberapa besarnya perasaan kamu?

“Kalau jodoh, nggak akan ke mana, kok.” Buat yang nyeletuk itu dalam hati setelah baca postingan ini, gue cuma bisa ngucapin: jangan menyesal.

Satu lagi pesan dari gue… Dua hati yang ingin dipertemukan dalam satu cinta… itu membutuhkan momen. Dan mungkin, ini saatnya.

Ada hati yang tidak selamat ketika terucap selamat tinggal.


Source: http://daraprayoga.com/ 

Thursday, 18 October 2012

Kemis Suraaam

Lagi-lagi hari ini gue ngeliat dia, duduk di teras masjid bersama teman-temannya. Itu memang bukan hal yang baru buat gue liat. Memang, selama ini dia sering duduk di situ, terlebih lagi karna sekarang sekolah pulang sangat cepat karena adanya UTS. Tanpa disadari, sedikit demi sedikit gue melihat ke arahnya.

Setelah beberapa saat berlalu, gue gak ngeliat keberadaannya di tempat tadi dia duduk. Dan sepertinya dia sudah pulang. Dan gue pun memutuskan pergi ke kantin bersama kedua teman gue yang lain. Gue sempet bingung makanan apa yang pengen gue beli, tapi akhirnya gue memutuskan untuk membeli mie goreng.

Pas ditanya mau duduk dimana, gue pun memilih untuk duduk di meja yang paling dekat dengan tempat gue dan yang lainnya membeli makanan. Gue gak sadar kalo misalnya ada dia di kantin sebelum temen gue ngasih tau. Gue sempet seneng ngeliat dia, setelah gue kira dia udah balik. Meja yang gue dan dia duduki hanya diselingi satu meja. Dan tempat duduk kami bisa di bilang saling berhadapan.

Tapi, gue mulai rada gimana gitu pas ngeliat siapa yang duduk di sampingnya. OMG! Dia hawa! Dia seorang wanita. Memang di meja itu bukan cuma ada dia dan si cewek itu, tapi juga ada satu orang cowok lagi. Dan yang gak gue abis pikir kenapa tu cewek duduk di deket dia. Perasaan gue langsung down, campur aduk, gak tau musti apa. Sakit, mungkin hanya itu yang dapat menggambarkannya.

Terlebih lagi salah seorang temen gue, yang kebetulan sekelas dengan si cewek itu bilang kalo si dia gak deket sama cewek itu, apalagi kenal. Dan sumpah, gue langsung berfikir segala hal yang nge-down-in perasaan gue sendiri. Entah itu dia lagi PDKT, atau jadian, dan semacamnya.

Gue pun langsung pindah duduk, gue duduk bukan lagi menghadap ke dia, melainkan membelakanginya. Gue down sedown-downnya. Tak lama setelah itu dia dan teman-temannya pergi. Dan kalian musti tau apa yang temen gue bilang, "Chyt, tadi sebelum dia pergi, dia ngeliat ke gue, abis itu kayak ngeliat ke lo gitu, mungkin mau mastiin itu lo apa bukan.". Sakit. Cuma itu yang gue rasain. Entah kenapa rasanya saat itu gue berfikir dia jahat banget. Dia di kantin sama seorang cewek, dan dia bangga karena gue udah ngeliat hal itu. Dan begonya, kenapa gue harus merasa sakit kayak gini? Toh, dia bukan siapa-siapa gue. Terserah dia mau ngelakuin apa aja.

Setelah dari kantin, gue masih bisa ngeliat dia, duduk di bagian dalam masjid dekat kaca. Dan sekali lagi, perasaan gue terasa lebih sakit dari sebelumnya.

Friday, 12 October 2012

Curcol Malam



Entah kenapa, akhir-akhir ini gue suka merasa ada sesuatu yang aneh di diri gue. Suatu perasaan yang muncul sama persis sewaktu Tour Bali-Jogja. Dan untuk kasus ini, kalian bener-bener orang pertama yang mengetahuinya.

Gue gak tau harus gimana, gue bingung. Gue merasa sekarang ada orang yang baru aja ngisi hati gue. Seseorang yang baru banget gue kenal. Dan lagi-lagi gue ngedapetin perasaan itu karena dia ngasih gue banyak hal yang gak pernah gue dapetin dari gebetan 5 tahun gue (orang yang gue suka dari SMP sampe sekarang) serta gebetan Bali gue (pertama kali nyadar kehadirannya pas Tour Bali-Jogja).

Gue gak tau gimana, mungkin untuk kali ini gue bisa dibilang lebih beruntung. Karena hubungan gue sama dia sekarang jauh lebih baik daripada hubungan gue sama mereka berdua. Gimana gak dramatis hidup gue, gue gak pernah bisa move on dari gebetan 5 tahun gue, dan gue juga rasanya kayak baru dilempar dari helikopter di ketinggian beribu-ribu kaki setelah perasaan gue diangkat sama gebetan Bali terus dijatohin begitu aja. Jujur, ini sakit.

Gue takut, takut teramat sangat. Gue gak mau hubungan gue sama dia kali ini berakhir kayak mereka berdua. Cukup, gue gak mau lagi dijauhin sama orang-orang yang gue sayang. Gue juga gak mau dijatohin begitu aja sama mereka. Bagaimana pun juga, gue itu manusia, gue punya hati.

Dan lo tau apa yang paling gue harapin sekarang? Gue pengeeeeeeen banget ngilangin perasaan yang gue punya ini dari dia dan gebetan Bali. Dan gue cuma mau fokus sama gebetan 5 tahun gue. Jujur, 5 tahun itu bukan waktu yang singkat. Gue bahkan udah kenal sama dia lebih dari 5 tahun yang lalu. Jauh banget sebelum gue kenal dia dan gebetan Bali.

Gue pengen cuma punya satu perasaan aja sama orang. Sakit rasanya punya perasaan buat 3 orang sekaligus. Sekali jatoh, kalo berbarengan itu rasanya beribu-ribu kali disakitin tanpa henti.



Yang parahnya, sekarang ini, gue merasa perasaan yang gue punya buat dia dan gebetan Bali gue itu cuma sekedar pelampiasan. Suatu perasaan yang muncul karna mereka ngasih apa yang pengen gue dapetin dari gebetan 5 tahun gue. Dan buat gue, itu terlalu sakit untuk membenarkannya. Gue gak mau suka sama orang berlandaskan itu. Gue cuma mau suka sama orang secara tulus, bukan karena mereka ngasih sesuatu yang gue pengenin. Dan gue berharap banget, sekarang gue bisa baca perasaan gebetan 5 tahun gue itu :(

Friday, 14 September 2012

What's on My Mind?

Saat ngeliat lo hari ini, entah kenapa gue jadi mikirin sesuatu yang selama ini gak pernah gue pikirin. Gue jadi berfikir, "Apa yang lo pikirin saat ngeliat gue?" dan, "Apakah lo pernah ngerasain hal yang sama kayak apa yang gue rasain sekarang?". Mungkin kalo gue bener-bener mempertanyakan hal itu ke lo, kemungkinan besar lo bakal jawab, "Emang lo siapa gue?". Oke, dan saat itu yang gue bisa lakuin cuma diam dan malu.

"Apa yang lo pikirin saat ngeliat gue?"
Asal lo tau, setiap gue ngeliat lo, gue selalu ngerasain kesenengan tersendiri yang gak bisa gue ungkapin dengan kata-kata. Kadang-kadang senyum-senyum sendiri, curi-curi pandang ke lo, dan suka merasa takut kalo pengen ngeliat lo, gue takut... takut lo merasa gak suka sama hal yang gue lakuin itu.

"Apakah lo pernah ngerasain hal yang sama kayak apa yang gue rasain sekarang?"
Gue sering banget ngerasa kesel karena banyak orang yang deket sama lo, padahal mereka baru kenal sama lo. Sedangkan gue? Gue udah jauh lebih dulu kenal lo dibanding mereka. Tapi kenapa selalu aja mereka yang lebih deket sama lo? Kenapa bukan gue? Kenapa harus mereka. Gue bisa kok deket sama orang-orang yang baru aja gue kenal. Tapi kenapa gak bisa deket sama lo? Orang yang jelas-jelas udah gue kenal dari dulu. Dan apa lo ngerasain hal yang sama saat ngeliat gue deket sama orang yang baru gue kenal? Itu adalah pertanyaan besar buat lo.

Gue gak ngerti siapa yang harus disalahin di balik hubungan kita yang begitu jauh saat ini. Dan gue juga gak tau bagaimana awal ceritanya. Tapi ini nggak lazim. Kita udah lama kenal! Lo juga pasti tau nama gue. Tapi lo gak pernah nyapa gue lewat senyuman atau pun perkataan saat lo ngeliat gue. Gue iri? Iya, gue emang iri. Terus masalah buat lo? Lo gak akan tau apa yang gue rasain sekarang, iya kan? Dan kalo lo tau pun, lo gak bakal mau ada di posisi gue. Tapi gue harap banget lo bisa ada di posisi gue, walaupun cuma sedetik sekalipun.

Asal lo tau, sakit banget hati gue diginiin sama lo. Gue gak tau musti gimana. Setiap ada orang baru yang isi hati gue. Orang itu hanya menempati setengah dari hati gue, dan setengahnya lagi itu tetep punya lo! Dan lo gak pernah sadar, gak pernah. Yang bisa lo lakuin cuma tertawa bersama temen-temen baru lo itu. Lo gak pernah sekali pun mikirin perasaan gue.

Kalo gue boleh milih, gue pengen banget ngilangin lo dari hati dan pikiran gue. Gue capek, capek bertahun-tahun nungguin lo. Lo pun gak ada respon sama sekali buat gue. Semua yang gue lakuin seolah gak ada yang bisa buat lo ngeliat ke arah gue. Lo gak pernah mau sedikit pun ngeliat ke arah gue.

Diem-diem, gue selalu memberi perhatian ke lo. Tapi lo gak pernah sadar. Lo mungkin gak sadar, kalo lewat temen lo gue udah ngingetin lo sesuatu yang seharusnya lo lakuin. Gue emang gak berani bilang hal itu secara langsung ke lo, hanya lewat perantara. Tapi itu gak pernah sedikit pun ngilangin kepedulian gue sama lo. Gue tetep peduli. Bagaimana pun juga lo tetep temen gue. Kalo lo ngerasa gue cuma pernah jadi temen lo, oke, itu gak masalah!

Entah kenapa, di setiap doa gue selalu kesebut nama lo. Gue berdoa yang terbaik buat kita berdua. Makin deket alhamdulillah, makin jauh ya syukur alhamdulillah.

Gue pernah berfikir, "Sebenernya gue bakal jadi gak sih sama lo buat kedepannya?". Bukannya gue menolak kehendak takdir. Tapi gue capek kayak gini. Kalo emang untuk kedepannya gue bakal jadi sama lo, berarti gak sia-sia gue nunggu lo selama ini dengan segala rasa sakit yang gue terima. Tapi kalo enggak, "Kenapa gue gak pernah bisa move on dari lo? ". Gue selalu gagal buat move on, sekeras apa pun gue mencoba.

Hari demi hari, semakin banyak sifat buruk lo yang gue tau. Entah itu temen lo yang cerita, atau pun gue liat pake mata kepala gue sendiri. Tapi, itu gak pernah sedikit pun ngurangin perasaan gue ke lo. Itu justru menjadi sebuah ketertarikan tersendiri buat gue.

Minder. Itu pasti gue rasain. Lo jauh banget berbeda sama gue. Lo idaman semua cewek. Dan pasti gak akan ada seorang cewek pun yang nyesel jadi pacar lo. Tapi gue? Gue bukan siapa-siapa, gue beda banget sama lo. Seharusnya gue sadar, dan perlahan-lahan menjauh dari lo. Tapi sekali lagi... gue gak bisa.

Dan untuk yang terakhir, gue takut banget kalo lo lebih dulu di ambil sama orang lain. Di dunia ini, banyak banget cewek yang jauh lebih baik dari gue. Gue gak tau musti gimana, gue gak bisa bayangin, dan gue gak tau gimana perasaan gue nantinya kalo hal itu terjadi. Dan yang pasti gue gak mau hal itu terjadi untuk saat ini. Karena lebih dari setengah hati gue itu masih buat lo! Orang yang pertama kali gue liat bukan sebagai teman, tapi sebagai seseorang yang spesial.


From C to L.

Saturday, 18 August 2012

It's All About Love: Part 2

Memasuki Bulan Agustus sekolah ku mulai sibuk menjalani setiap program kerja yang telah mereka rencanakan. Kami pun sebagai murid baru harus bisa beradaptasi dengan setumpuk pekerjaan rumah serta pelajaran yang diberikan. Pelajaran SMA memang sedikit berbeda dengan SMP. Saat kini kami dituntut untuk bisa lebih aktif dalam segala hal, termasuk setiap proses pembelajaran di kelas. Apabila di SMP kami selalu dibimbing untuk mencatat dan sebagainya, kini semuanya telah tiada. Tidak ada yang menuntut kami untuk mencatatnya atau pun tidak. Setidaknya kami harus mengingat satu hal penting: tidak mencatat, berarti mendapatkan nilai 5 di setiap pelajaran yang ada.

Duduk di bangku kantin merupakan hal yang paling menyenangkan bagiku saat berada di sekolah. Terlebih lagi setelah aku mendapatkan segudang pelajaran eksak yang cukup membuat otak memanas hingga 90 derajat.

"Eh, sorry," tanpa sengaja seseorang mendorong mejaku. "Iya, gpp," jawabku saat itu. Nampaknya ia sedang bercanda dengan teman-temannya. Aku tidak begitu memperhatikan berapa banyak teman yang berada di sekelilingnya, tapi yang jelas jumlahnya banyak. Dan itu sudah dapat menjelaskan seperti apa pribadinya. Dia pasti termasuk golongan anak-anak populer di sekolah.

Mata ku pun tertuju kepada seorang cowok yang berdiri agak belakang dari cowok populer tadi. Ia tersenyum, melihat si cowok populer itu bertingkah lucu. Yup, dia itu Iham. Ya, dia memang terlihat sangat tampan saat tersenyum seperti itu. Aku sempat berfikir, betapa beruntungnya mereka yang kini berteman dengannya. Mereka bisa tertawa lepas bersama, berbincang-bincang ria, dan melakukan hal-hal hebat bersama. Kalo boleh aku jujur, aku memang iri dengan mereka, karena aku tak bisa sedekat itu dengannya.

Karena asik memikirkan hal tersebut, aku pun tidak menyadari perubahan sikap Ilham yang berbalik melihatku. Mungkin dia merasakan keberadaan seseorang yang memperhatikannya, sehingga dia mengarahkannya kepada orang yang melakukan hal tersebut. Saat aku tersadar, aku tidak melihat adanya sesuatu yang menyenangkan dari wajahnya, datar. Dia tidak tersenyum. Saat itu, dia terlihat seperti orang lain bagiku, orang yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Seseorang yang baru pertama kali aku lihat semenjak aku membuka mataku untuk pertama kalinya di dunia ini.

Friday, 17 August 2012

It's All About Love: Part 1

Tidak terasa sekarang telah memasuki pertengahan Bulan Juli 2000, itu berarti hari-hari sibuk sekolah akan segera dimulai. Hari ini merupakan hari yang istimewa, karena kini aku merupakan siswi SMA. Entah berapa banyak calon siswa dan siswi yang mendaftar di sekolah ini, sebuah sekolah terbaik di Jakarta. Aku merasa beruntung karena menjadi salah satu dari 300 orang yang terpilih dan memiliki kesempatan untuk bersekolah di sini.

Seminggu pun berlalu semenjak masa orientasi SMA ku tersebut. Aku pun memasuki gerbang sekolah yang saat itu masih sepi, melihat sekeliling, lalu menghirup udara pagi yang memberikan semangat tersendiri bagiku. Tanpa sadar, langkah kaki membawa ku ke muka pintu kelas mu. Aku sempat berfikir saat itu, "Apa yang paling sering kau lakukan saat berada di sini?".

Ya, ini adalah kelas Ilham, satu-satunya teman yang paling lama ku kenal di sekolah ini. Bahkan aku sudah jauh lebih lama mengenalnya sebelum masuk SMA. Mungkin ini memang takdir, kita dipertemukan kembali di SMA, setelah sebelumnya sempat merasakan keberadaannya sewaktu SD dan SMP.

Tapi, hubungan ku dengannya tidak lah sebaik hubungan ku dengan teman yang baru aku miliki di sekolah ini. Bahkan tidak ada yang mengetahui ataupun mengira aku sudah lama mengenalnya. Ini bukanlah sebuah film dimana teman yang kita kenal dari sejak kecil sampai sekarang bisa menjadi sahabat dan dekat dengan kita. Aku bahkan tidak pernah berbicara dengannya semenjak duduk di bangku SMP. Apakah itu yang dinamakan teman?

Ya, secara tak langsung, kami adalah teman. Teman dalam diam. Sesungguhnya kami saling mengenal, tapi entah kami yang terlalu egois dan gengsi hingga tidak ada yang menyapa terlebih dahulu. Dia memang tipe cowok pendiam yang rasanya aneh untuk melakukan hal-hal seperti itu. Sedangkan aku? Aku merasa diriku terkadang terlalu bawel, dan sering tertawa lepas. Tapi, kenapa aku tak bisa melakukan hal itu padanya? Hanya sekedar untuk menyapa, atau bahkan tertawa bersama dengannya sebagaimana seharusnya teman lama.

Ya, aku memang menyukainya. Dan kini, perasaan itu telah berjalan 3 tahun lamanya. Kini semuanya telah berubah, kami bukanlah anak kecil lagi yang bisa dengan mudah bergaul dengan siapa saja tanpa memiliki perasaan yang berarti. Kami telah sama-sama tumbuh dewasa, kami memiliki perasaan dan jalan hidup masing-masing. Sempat tersirat rasa canggung saat bertemu atau pun bertatapan. Tapi, bukankah kini itu wajar?

Terkadang aku merasa iri dengan mereka yang bisa menjaga pertemanannya hingga bertahun-tahun lamanya, bahkan dengan lebih dari seorang teman. Tetapi, kenapa aku tidak bisa melakukannya? Menjaga pertemanan dengan satu orang yang sudah ku kenal sejak dulu. Seseorang yang ku taruh perasaan padanya. Seseorang yang kini menjadi sangat berarti bagi ku.

Tuesday, 14 August 2012

Can You Find It?

From a set of words below, there is something that is meaningful to me. Can you find it?


Langkah ku kini, tak membawa ku pada mu
Tertatih aku melangkah penuh rasa pasrah
Fenomena cinta ini selalu terasa menyakiti hati
Raga pun tak berkutik membenarkannya
Dalam sunyi, aku tertunduk lemah
Itulah cinta, terlalu naif
Apa pun yang ku lihat belum tentu menyenangkan
Seperti apa yang selalu ku katakan, "You make me crazy!"
Ukiran senyum palsu ku pun terkuak
Upaya ku untuk mendapatkan senyum mu terlalu sukar
Itu karena aku terlalu memberikan mu 

Monday, 18 June 2012

"Melodi Hitam Putih" - Theater of @sebatig (XI.A3)


Yeay! Akhirnya, selesai juga sebuah persembahan dari @sebatig. Sebuah kelas yang amat sangat gue sayangi!

Melodi Hitam Putih, sebuah teater yang berdurasi kurang dari 1 jam yang menceritakan tentang seorang gadis buta bernama Lucia yang piawai menggesek senar biola. Ia tinggal bersama nenek dan seorang adiknya. Ia tidak mempunyai seorang teman pun sampai akhirnya bertemu dengan Farryl, seorang pria misterius yang sebelumnya tidak menyukai musik, sesuatu yang sangat disukai Lucia.

Farryl merupakan pria yang keras. Ia sebenarnya memiliki sebuah penyakit yang dapat mengancam nyawanya, yaitu Lupus. Penyakitnya ini disembunyikan dari keluarganya. Sampai pada akhirnya, ia meninggal dunia tepat di hari ulang tahun Lucia.

Sebelum ia meninggal dunia, ia meminta kakaknya (Derryl) untuk menjadi dirinya setelah ia meninggal. Pada awalnya, Derryl tidak menyutujui hal itu, tapi apalah daya, ia tidak bisa menolak permintan terakhir adiknya tersebut.

Itulah sedikit sinopsis dari teater @sebatig ini. Sebuah teater yang dapat mempersatukan warga @sebatig itu sendiri. Bagaimana pun pandangan orang tentang teater ini, menurut gue teater ini sangat sangat sempurna! PERFECT!

Thanks @sebatig atas kerjasamanya. It's a real teamwork! We are will be the best! And we will be a winner!

Sunday, 27 May 2012

Dalam Diam

Hallooooooooooooooooooooooooo kawaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan..........

Dari sekian lamanya gue gak posting, kali ini gue pengen kasih kabar-kabari buat kalian. Kali ini, Rohis sedang mengadakan Rohis Cup *alias lomba kecil-kecilan*. Hal ini bertujuan untuk lebih mengeratkan tali silaturahmi antara anggotanya. Ada berbagai macam lomba yang diperlombakan, diantaranya nasyid, azan, debat, cerdas cermat, MTQ, MHQ, Kaligrafi, cerpen islami, dan yang lainnya yang belum gue sebutin.

Dan dari sekian banyak lomba yang diperlombakan, gue memilih salah satu lomba yang sebenernya gue gak bisa lakuin, yaitu menulis cerpen. Abisan dari pada yang lainnya, itu bakal tambah ancur lagi kalo gue ikutin. Dan saat ini, novel itu sudah jadi. Walaupun gue sedikit gak niat waktu bikin ending-nya. Abis gue udah keburu panik duluan sih, cerpen gue itu udah menginjak halaman 8 dari max. 10 halaman, padahal belom ada setengah cerita. Akhirnya gue segera membuat akhir yang sebenernya gue gak suka, tapi sesuai.

Untuk cerpen gue kali ini, gue belom ngasih siapa pun untuk membacanya, dan sepertinya gue gak mau kalo sampe ada orang lain yang baca. Tapi tenang aja, gue tau kok kalo kalian itu pasti penasaran. Maka dari itu, sekarang gue bakal kasih liat cover dari cerpen itu yang gue buat sendiri. Walaupun gak begitu bagus, tapi yang penting isi dalemnya bisa kebaca dari cover itu *semoga*. Pesan gue di posting kali ini adalah... semoga kalian bisa menebak-nebak isi cerpen gue yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, hahahaha :p



Thursday, 19 April 2012

Nodame Cantabile


SINOPSIS

Tokoh utama drama ini adalah Shinichi Chiaki, seorang mahasiswa Akademi Musik Momogaoka yang amat berbakat. Dia adalah putra dari pianis ternama Chiaki Masayuki. Meskipun ia masuk di Jurusan Piano, sesungguhnya ia bercita-cita menjadi conduktor. Ia lalu bertemu dengan Megumi Noda (Nodame), seorang gadis sederhana yang amat mencintai piano. Meskipun gadis ini amat berbakat dalam piano, ia tidak bisa membaca partitur, dan belum serius dalam bermusik. Belakangan, Chiaki-lah yang membuka matanya untuk dunia musik yang sesungguhnya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebenernya, pada posting-an kali ini gue gak akan membahas secara keseluruhan dari drama ini. Tapi gue akan membahas satu bagian dari salah satu episode drama ini yang membuat gue meneteskan air mata *kira-kira episode 8 akhir - 9 awal*. Padahal dari awal, drama ini bener-bener humor! Gue bahkan gak nyangka kalo gue sampe bisa meneteskan air mata di drama ini.


KILAS BALIK

Sewaktu kecil, Chiaki tinggal di Prague dan sering melihat pertunjukan orkestra yang dipimpin oleh seorang conductor bernama Sebastiano Vieira. Chiaki sangat kagum dengan Vieira, bahkan ia sempat belajar bermain piano dengannya. Tapi, pada suatu hari, kedua orangtua Chiaki bercerai. Dan ia pun harus ikut bersama ibunya pergi ke Jepang. Dia sangat sedih karena akan berpisah dengan sang maestro. Tapi ia berjanji, ia akan kembali ke Prague dan menjadi seorang conductor yang hebat.

Tetapi nasip pun berkata lain. Pesawat yang dinaiki Chiaki mengalami kecelakaan saat melakukan pendaratan darurat. Sejak saat itu, Chiaki tidak pernah naik pesawat terbang lagi karena takut kejadian itu akan terulang.


Kita kembali lagi ke bagian yang buat gue paling mengharukan ini.... Nodame akhirnya ingin mencaritahu kenapa hal tersebut sangat menghantui Chiaki, alhasil ia pun memutuskan untuk bertemu Ibunda Chiaki. Ibunya pun bilang bahwa Chiaki melihat orang yang meninggal di pesawat itu, tetapi ia tidak mau cerita siapa orang yang dia lihat.

Selanjutnya, Nodame pergi ke kediaman Chiaki dan menanyakan hal tersebut dengan terlebih dahulu menghipnotisnya. Setelah itu Chiaki pun bercerita....

Waktu berada di pesawat, Chiaki duduk di sebelah pasangan suami-istri yang umurnya sudah tidak bisa dikatakan muda lagi. Sang suami memegang pamflet dari orkestra yang dipimpin oleh Sebastiano Vieira. Pasangan itu terlihat sangat senang sekali karena habis melihat orkestra tersebut. Dan mereka pun ingin lagi kembali ke Prague untuk melihatnya. Sambil berpegangan tangan, sang suami pun berkata...

"Tahun depan, mari pergi ke Prague lagi. Kita berdua, bersama-sama... melihat orkestra ini lagi."

Tapi kejadian yang tak diduga pun datang, pesawat mengalami kecelakaan. Dan saat kecelakaan itu, sang suami tak sengaja menjatuhkan botol obat miliknya, Chiaki melihat hal itu. Nafas sang laki-laki itu pun mulai sesak, terengah-engah. Dan sang istri dengan histeris dan panik berkata,"Kamu kenapa? Ada apa?". Lalu ia dengan cekatan merogoh saku jas yang dikenakan suaminya, "Mana obatmu?". Chiaki melihat botol obat itu menggelinding dan berusaha untuk mengambilnya. Tetapi botol itu menggelinding ke sisi jauh pesawat.

Kejadian itu membuat Chiaki merasa bersalah, karna saat itu hanya dialah yang mengetahui hal tersebut. Terlebih lagi ia tidak berhasil mengambil botol obat milik laki-laki tua itu. Rasa bersalah dan penyesalannya semakin berlipat. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Maka dari itu dia memiliki trauma tersendiri saat menaiki pesawat terbang.

Sebenernya, bagian yang bikin gue sampai menitikkan air mata itu bukan pas bagian Chiaki-nya, tapi pas bagian si kakek dan nenek itu memiliki keinginan untuk kembali ke Prague lagi. Tapi sekarang itu tidak mungkin. Saat itu mereka terlihat sangat bahagia. Dan asal kalian tau, gue netesin air mata barengan sama Chiaki lho, entah kenapa waktunya pas banget kita bisa barengan gitu. Wkwkwkwk :p

Monday, 16 April 2012

Jeruk Makan Jeruk

Eiittts! Jangan dulu terburu-buru kalian menilai hanya dari judulnya doang, kalian juga harus melihat isi dari keseluruhan artikel yang satu ini. Ini bukan artikel yang membahas lesbian atau homo. It just a title, and a title have thousands of different meanings. Dan untuk artikel ini kan gue lebih dulu jelasin arti dari judul di atas.

Apakah kalian pernah mendengar yang namanya cinta lokasi? Yup! Cinta yang biasanya tumbuh akibat kebiasaan saling bertemu. Mungkin masih hangat kali ya kalo gue ketik artikel ini untuk para reader setia blog gue, mengingat tanggal 14-15 April kemarin kita baru melihat All Indonesian Final di Axiata Cup 2012 *bagi yang nonton. kalo nggak? bodo amat (padahal gue cuma nonton leg pertamanya doang :p)*. Oleh karena itu, kali ini gue akan membahas tentang cinlok alias cinta lokasi antar para pemain bulu tangkis Indonesia bahkan dunia. Oleh karena profesi mereka yang sama *pemain GOOD-minton*, gue memutuskan untuk memberikan judul Jeruk Makan Jeruk pada artikel kali ini. And now, mari kita lihat siapa saja mereka XD




1. Lee Chong Wei dan Wong Mew Choo


"I have a girlfriend also, her name is Wong Mew Choo,". Demikian pengakuan tunggal putra terbaik Malaysia, Lee Chong Wei yang dilansir dalam situs pribadinya. Juara Indonesia Open 2007 itu terang-terangan mengakui bahwa Mew Choo adalah kekasihnya. Seperti halnya Chong Wei, Mew Choo adalah atlit bulu tangkis andalan Malaysia di nomor tunggal putri.











2. Alan Budikusuma dan Susi Susanti


Alan Budikusuma dan Susi Susanti berhasil menyatukan emas tunggal putra dan putri. Mereka lantas dikenal sebagai pengantin Olimpiade.


Kisah cinta itu tidak berhenti di lapangan saja. Mereka melanggengkan hubungan tersebut di altar pernikahan pada 9 Februari 1997. "Sudah terlalu lama pacaran, apa lagi kalau bukan menikah," kenang Susi.

Susi yang kini menjadi manajer Tim Uber Indonesia itu tidak menampik anggapan bahwa kisah cintanya berawal dari seringnya pertemuan di pelatnas dengan Alan.


3. Ra Kyung Min dan Kim Dong Moon


Di belahan dunia lain, dari Asia Timur, kisah cinta dua insan bulu tangkis terjalin di Korea Selatan (Korsel). Pelatih Timnas Korsel, Ra Kyung Min beristri Kim Dong Moon. Sebelumnya, mereka adalah pasangan di ganda campuran.







4. Simon Santoso dan Maria Kristin Yulianti


Maria Kristin Yulianti dikabarkan pernah menjalin asmara dengan Simon Santoso. Namun, keduanya kini telah putus.

Kisah cinta Maria dengan Simon masih menyisakan cerita. Hal tersebut terjadi ketika Indonesia menjadi runner-up Piala Sudirman 2007. Kala itu, Maria harus menghadapi tunggal Inggris, Tracey Hallam pada babak semifinal di Glasgow, Skotlandia. Ketika itu, tim Indonesia miskin suporter.

Sewaktu Maria bertanding, Simon mulai mengetuk-ngetukkan botol kosong ke bangku. Tindakan Simon tersebut diikuti oleh pemain Indonesia lain untuk membuat suasana menjadi meriah. "Itu kisah lama," kilah Simon.


5. Tommy Sugiarto dan Pia Zebadiah Bernadet


Sewaktu Tim Uber bertanding pada semifinal, Tommy Sugiarto yang menjadi tunggal keempat Tim Thomas turut hadir meski malam berikutnya harus bertanding melawan Korsel. Kabarnya, dia sedang memadu kasih dengan tunggal wanita ketiga Indonesia Pia Zebadiah. Keduanya memang enggan mengakui. Tetapi, Markis Kido, kakak kandung Pia, mengiyakan pernyataan tersebut. "Mereka memang pacaran," ungkapnya.

Kedekatan Tommy dan Pia terlihat saat Djumharbey Anwar meninggal pada Maret 2010 lalu. Tommy mendampingi Pia setelah pemakaman usai, bahkan hingga para pelayat lain meninggalkan lokasi.

Dan kini di kabarkan bahwa Tommy Sugiarto telah memiliki pacar bernama Nisa.


6. Lin Dan dan Xie Xingfang


Kisah cinta lain yang tak kalah menarik terjadi antara pemain ranking satu dunia, Lin Dan dan Xie Xingfang. Keduanya mencetak prestasi romantis saat bersama-sama menjadi juara dunia 2006.


Bahkan, Xingfang sangat melindungi Lin Dan. Hal tersebut terbukti saat Lin Dan dihina oleh fans Taufik Hidayat pada Asian Games 2006 Doha, Qatar. Waktu itu, Xingfang langsung membalas dengan mengatakan bahwa Taufik adalah pemain sombong. Keduanya malah kerap saling mencuri pandang dan membagi senyum saat berlatih maupun bertanding.


♥ 7. Dionysius Hayom Rumbaka dan Bellaetrix Manuputty ♥ *Gue paling suka pasangan yang satu ini! Longlast, keep loving, and keep romantic Kaka! :D*



8. Ahmad Tontowi dan Anneke Feinya Agustine



9. Andrei Adistia dan Maria Febe Kusumastuti



10. Choong Tan Fuk dan Zhang Jiewen




Thursday, 8 March 2012

Cinta itu...


Cinta itu seperti kupu-kupu, tambah dikejar, tambah lari. Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang disaat kamu tidak mengharapkannya. Cinta dapat membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih, tapi cinta baru berharga kalau diberikan pada seseorang yang menghargainya. Jadi jangan buru-buru dan pilih yang terbaik.

Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang “sempurna” bagi seseorang. Tapi bagaimana menemukan seseorang yang dapat membantumu menjadi dirimu sendiri. Jangan pernah bilang “I love you” kalau kamu tidak perduli kepadanya.

Jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada. Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya. Jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya berbohong. Hal paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya…

Cinta itu bukan “Ini salah kamu”, tapi “Ma’afkan aku”.

Cinta itu bukan “Kamu dimana sih?”, tapi “Aku disini”.

Cinta itu bukan “Gimana sih kamu?”, tapi “Aku ngerti kok”.

Cinta itu bukan “Coba kamu gak kayak gini”, tapi “Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya”.

Kompatibilitas yang paling benar bukan diukur berdasarkan berapa lama kalian sudah bersama, maupun berapa sering kalian bersama, tapi apakah selama kalian bersama, kalian selalu saling mengisi satu sama lain dan saling membuat hidup yang berkualitas.

Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu ijinkan. Yang berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu,tapi bagaimana belajar.


Cara terbaik mencintai :

Jangan pernah jatuh cinta, karena jika jatuh itu sakit, jatuh itu berderai, dan setelah berderai tidak bisa kamu kembalikan seperti semula, tetapi taruhlah cintamu pada tempatnya , di taruh tempat yang indah, disimpan dengan rapi, bukan di jatuhkan, karena sekali lagi jatuh itu sakit, jatuh itu berderai. Jikapun harus terjatuh , jatuhlah dengan kondisi yang baik tapi jangan terhuyung-huyung.

Cinta itu….membuat Anda konsisten dan tidak memaksa, cinta membuat anda berbagi dan tidak bersikap tidak adil, cinta itu membuat Anda mengerti dan tidak banyak menuntut.

Memang sakit melihat orang yang kamu cintai sedang berbahagia dengan orang lain, tapi sesungguhnya lebih sakit lagi kalau orang yang kamu cintai itu tidak berbahagia bersama kamu. Cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisah dengannya, tetapi lebih menyakitkan apabila kamu dilupakan oleh kekasihmu, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi apabila seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan.

Yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menemukan seseorang dan jatuh cinta, hanya untuk menemukan bahwa dia bukan untuk kamu, dan kamu sudah menghabiskan banyak waktu untuk orang yang tidak menghargainya.

Kalau dia tidak bisa dipercaya sekarang, dia tidak akan pernah bisa dipercaya lagi setahun ataupun 10 tahun lagi, biarkan dia pergi….lepaskan cinta itu, jangan pernah berharap lagi dia datang….

Monday, 27 February 2012

How I Express It?

Ada cara tersendiri bagiku untuk mengungkapkan segalanya. Semua kata-kata yang selalu ingin kusampaikan padamu. Dan inilah aku, menunjukkan rasaku dengan caraku sendiri. Cara yang aku ingin tak seorang pun dapat menirunya.

Semua cerita yang ada diantara kita, semuanya kutulis rapi dalam sebuah buku tak berwujud, yang kusimpan di lelung hati yang paling dalam. Semuanya kulakukan agar tak ada seorang pun yang dapat mencurinya. Aku menulis semuanya dengan tinta "rasa" yang tak akan pernah habis.

Aku menulis semuanya, cerita di saat pertama kali kita bertemu. Cerita di mana kita saling menyapa satu sama lain. Dan juga sampai pada cerita di mana kita saling diam bagai tak mengenal satu sama lain. Aku masih mengingat saat-saat aku melihat namamu di sekolah menengah atas yang sama denganku. Aku tak pernah menyangka sebelumnya, bisa kembali berada di sekolah yang sama denganmu. Sama seperti 5 tahun sebelumnya yang aku jalani.

Dan 4 tahun yang lalu, aku tidak menyangka dapat menemukan sesuatu yang aku sukai di dirimu. Dalam diam, aku selalu memperhatikanmu. Melihatmu tertawa bersama teman-temanmu, walau aku tak tau apa yang sedang kalian bicarakan saat itu. Aku senang melihat kau tersenyum, melihat kau bersenda gurau bersama yang lainnya. Dan kini, melihatmu, memperhatikanmu telah menjadi suatu kebiasaan untukku.

Aku masih mengingat saat-saat itu, saat dimana kita saling berbicara untuk pertama kalinya di sekolah tingkat atas ini. Mungkin itu hanya satu-satunya percakapan diantara kita yang aku ingat. Lambat laun, kau pun mengetahui perasaanku. Hal itu membuatku selalu merasa malu setiap kali bertemu denganmu. Tetapi, diam-diam aku selalu mencaritahu semua hal tentangmu.

Kini, kita pun sedah berada di tingkat dua. Dan ada satu hal yang baru kuketahui, ada seseorang yang telah mengisi hatimu saat ini, seseorang yang telah memilikimu. Tempat yang selama ini ingin aku tempati. Aku melihat kau bersamanya. Melihat kau tersenyum. Sesuatu yang tak mungkin bisa kudapatkan darimu. Aku tak dapat membohongi perasaanku. Hati ini terlalu sakit untuk menerima kenyataan itu.

Tapi, aku akan selalu mencoba berusaha untuk melupakannya.Melupakan semua hal tentangmu. Semua hal yang dapat membuatku kembali jatuh tersungkur. Jujur, tak mudah bagiku untuk melupakanmu, seseorang yang terlanjur mengisi kekosongan hati ini. Tapi bagaimana pun juga, kini kau tinggallah sebuah mimpi yang tak mungkin untuk ku gapai. Dan aku yakin, di dalam hatiku yang paling dalam, aku hanya inginkan satu hal untukmu. Melihatmu bahagia, walau bukan dengan diriku.

Sunday, 26 February 2012

Senja di Taman Ewood

SENJA DI TAMAN EWOOD

Sungging Raga

SATU

Akan selalu ada wanita-wanita yang menangis kala menikmati senja di taman ini. Dan mereka tak butuh alasan untuk melakukannya, menitikkan air mata ketika cahaya merah terlihat dari hamparan penuh rerumputan, pohon-pohon, dan sebuah danau kecil di taman Ewood, di sudut kota Blackburn. Waktu-waktu berjalan, malam, pagi, siang, sore, dan tentu saja, senja. Aku juga akan membagi cerita ini menjadi lima bagian sebagaimana waktu, karena di antara wanita-wanita yang menangis itu aku akan melihatmu, duduk bersandar di bangku tepi danau, dengan pakaian yang paling kusut dan mata yang paling sendu, menatap kosong pada titik cakrawala tempat terbenamnya matahari. Semua wanita di taman Ewood mengenalmu, wanita tanpa nama yang tak pernah absen menikmati jatuhnya matahari kemerah-merahan menuju pekat yang menyambar-nyambar, wanita yang tak henti-hentinya meneteskan air mata di antara kerikil dan rerumputan.

Kamu pasti datang dengan kemeja putih itu, ditambah syal merah muda melingkar di leher, dan rok panjang ala gadis Eropa pada umumnya. Kamu datang jauh sebelum wanita-wanita itu hadir bersama pasangannya, lebih dulu menemani kicau burung dan kepak sayap kupu-kupu di hamparan bunga-bunga, terkadang kamu memetiknya, dan melemparkannya pada ikan-ikan yang mengiranya sebagai umpan, atau menemani sepasang angsa yang tak jemu mengelilingi danau, kamu pasti membayangkan kita seperti mereka, hidup bersama dengan bebas, menikmati ketenangan, menjadi bagian keindahan di mata setiap orang.

Aku masih ingat ketika membawamu ke taman Ewood untuk pertama kali. Jangan pernah lupakan bagaimana perkenalan kita, pertemuan di satu titik rapuh. Ketika itu kamu adalah wanita ahli kata-kata yang selalu merangkai cerita tentang senja. Sedangkan kualitas tulisanku berada tepat di garis kemiskinan sastra. Kita bertemu dalam ruang maya, menjalin cerita yang hampir membosankan jika dituliskan di majalah-majalah anak muda.

”Aku suka senja, apalagi jika melihat burung-burung terbang ke arah barat, seakan-akan rumah mereka adalah senja.”

”Tetapi, aku tidak begitu mengerti senja. Bagiku tak ada sekat antara sore dan malam, antara sisa-sisa cahaya siang dan datangnya potongan-potongan malam.”

”Apa kamu tidak pernah bermain di pantai ketika sore hari? Ketika kamu lihat langit menggaris merah dan beberapa perahu berlayar lurus hanya menyisakan layarnya yang berkibar. Seperti sangat dekat dengan garis dunia itu. Seakan bersandar pada cahaya senja.”

”Tidak, aku hanya tahu pantai yang panas, dan sore hari aku pulang untuk beristirahat.”

”Jadi, kamu tidak pernah melihat senja?”

”Aku bisa melihatnya dari foto-foto.”

”Foto-foto tidak hidup, semuanya diam, seperti dunia tanpa waktu.”

”Kalau begitu berikan aku video yang merekam senja.”

”Tidak. Aku tidak punya. Aku saja jarang menikmati senja yang utuh. Kadang setahun dua kali, kadang setahun sekali, bahkan sering tidak sama sekali.”

”Lalu, di mana kamu bisa melihat senja yang utuh?”

”Aku hanya melihatnya ketika pulang ke rumah orangtuaku di desa Yorkshire, di London Utara. Di sana ada bukit luas yang jarak pandangnya sampai ke pantai, dan ketika sore tidak akan ada yang menghalangi pemandangan terbenamnya matahari, termasuk senja itu.”

Kemudian segalanya hening.

”Kalau begitu, aku akan membawamu ke suatu tempat di kota ini yang bisa melihat senja setiap hari.”

”Apa? Bukankah tadi kamu bilang tidak pernah melihat senja?”

”Aku berbohong.”

DUA

Senja memang barang langka di kota Blackburn. Gedung-gedung bertingkat dengan lampu merkuri telah mengalahkan sisa cahaya setelah tenggelamnya matahari. Belum lagi lampu kota menyinari jalanan di mana mobil-mobil berkejaran dengan waktu. Orang-orang di sini tak begitu peduli apakah matahari telah tenggelam atau bahkan terbit dari arah tenggelamnya. Becerita tentang senja hanya lelucon di kantin dan taman bermain anak-anak. Tetapi, tidak bagi kamu yang baru tinggal di kota ini. Sejak masuk ke University of Central Lancashire setahun yang lalu, kamu seperti kehilangan nyawa dalam tulisan-tulisanmu.

”Ke mana kita pergi?”

”Ya seperti janjiku. Melihat senja.”

”Jangan bercanda, di kota seperti ini mana ada tempat untuk melihat senja.”

”Kalau begitu biarkan aku bercanda, aku akan membawamu ke daerah Ewood, sedikit terpencil, tetapi aku pernah sampai ke sana sewaktu berkeliling kota Blackburn. Dan aku sampai di tempat itu menjelang terbenamnya matahari. Mungkin itu senja yang kamu maksud.”

Mobil melaju kencang, jalanan semakin sepi, hanya kompleks perumahan yang berdempetan. Setelah sekitar satu jam perjalanan meninggalkan hiruk-pikuk kota, kita sampai juga di taman Ewood, tepat menjelang malam. Aku sudah mengaturnya.

”Gila! Ini benar-benar senja!” Kau berteriak kegirangan, menatap langit merah sedikit keemasan itu seolah tak berkedip, sementara sekeliling taman hanya berupa rerumputan, pohon, bunga-bunga, dan danau, ”Tetapi, mengapa sepi sekali? Apa tidak ada yang tertarik dengan pemandangan senja?”

”Setiap orang lelap dalam kesibukannya, tidak ada waktu untuk datang dan melihat yang seperti ini.” aku menjawab. Memang, seperti tak ada kehidupan di taman Ewood kecuali sebuah rumah mungil di dekat jalan raya tempatku memarkir mobil, bisa jadi penghuni rumah itulah yang merawat taman ini. Seorang kakek dan ketiga cucunya yang kecil-kecil. Mereka tersenyum ketika kita melintasi pagar menuju taman.

Suasana menjelang malam yang sempurna, tetapi segala sesuatu yang terasa indah saat itu ternyata tidak berulang. Keesokan harinya kamu mengajakku pergi ke tempat yang sama—dan aku pun selalu memberikan waktuku untuk mengantarmu melihat fase pergeseran matahari itu—Alangkah terkejutnya kita melihat puluhan orang bertumpuk di taman tersebut.

”Mengapa tiba-tiba banyak orang?” tanyaku heran. Aku menduga, gara-gara kita menikmati senja kemarin, pemilik rumah itu lalu mengomersialkan taman yang dirawatnya, tetapi aku tidak melihat loket pembayaran di pintu masuk atau karcis parkir.

”Entahlah, padahal aku hanya memberitahu beberapa sahabatku di kampus bahwa ada senja di daerah Ewood.”

Dugaanku meleset. Rupanya kabar ini menyebar karena kamu, di antara puluhan orang itu aku memang sempat melihat beberapa gelintir kawan-kawanmu. Kalian bercakap-cakap, meninggalkanku untuk sementara.

”Bagus sekali ya! Ayo dipotret!”

”Direkam saja!”

Kebanyakan dari mereka hadir bersama kekasihnya, tetapi ada juga yang membawa anak-anak kecil, membiarkannya berlarian di jalanan penuh kerikil, mendekati sepasang angsa di danau, bermain air yang jernih dengan pantulan cahaya senja.

”Padahal aku ingin menunjukkan senja ini spesial hanya untukmu.” Aku sedikit berbisik ketika kamu sudah berada di dekatku.

”Aku juga tidak menyangka akan banyak orang datang ke sini. Tetapi, setidaknya ini bukti bahwa mereka masih mau untuk menikmati pemandangan senja. Ya, kan?”

Kamu menatapku dengan tersenyum, wajah putihmu yang teduh itu membuatku urung untuk kecewa. Walaupun sepertinya kamu membaca gurat kekecewaan di wajahku yang murung.

”Kalau begitu aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku, sekali lagi. Sesuatu yang spesial, dan aku yakin tak seorang pun bisa menirunya,” kamu berkata tiba-tiba.

”Apa itu?”

”Menjadi senja.”

TIGA

Bagaimana caranya menjadi senja. Apakah harus mengikuti burung-burung yang terbang ke arah terbenamnya matahari di titik cakrawala sambil memakai baju merah keemasan? Bagaimana caranya? Kalau saja aku bisa bertanya kepada penyair dan penulis cerita yang suka membawa obyek senja, mungkin mereka tahu, mungkin mereka pernah beberapa kali menjadi senja sehingga senja selalu hidup dalam tulisan mereka. Tetapi, itu tidak mungkin.

”Kamu yakin ingin aku menjadi senja?”

”Tentu, aku yakin kamu dapat melakukannya, dan mereka di taman itu tak akan bisa menirunya.”

Aku tertegun, otakku berputar keras. Tidak mungkin aku bertanya kepada kawan-kawan geniusku di kampus, pasti mereka semua menertawakanku. Pertanyaan paling konyol yang kembali keluar dari mulut seseorang yang sebenarnya tengah jatuh cinta pada taraf akut.

”Kalau berbuat untuk wanita yang realistislah, jangan sampai gila begitu.”

”Lihat saja, aku pasti bisa memenuhinya. Lihat saja.”

Pasti ada caranya, setidaknya, harus ada. Di dunia ini ketidakmungkinan sudah hampir punah, segala sesuatu bisa dilakukan walaupun hakikatnya semu dan jauh melenceng dari kenyataan. Dan benar, kan? Beberapa jam menyendiri dalam kamar, akhirnya kulihat sesuatu yang berkilat itu, sesuatu yang memantulkan cahaya putih dari sinar matahari yang tak terhalang gorden jendela. Ya! Aku mendapatkannya, akhirnya aku mendapatkan cara untuk memenuhi keinginanmu, keinginan yang tak seorang pun bisa menirunya.

”Besok aku adalah senja,” gumamku. Aku tersenyum puas.

EMPAT

Angin sore menerpa deretan pohon cemara, beberapa bangku masih tak berpenghuni, kamu datang jauh lebih awal. Belum ada siapa pun di taman Ewood. Hanya sepasang angsa itu tengah memainkan ekornya membentuk riak-riak kecil. Tetapi, ikan-ikan tak pernah takut dengan keduanya. Mereka seperti bersimbiosis mutualisme, saling menyiratkan kesempurnaan pemandangan taman Ewood. Beberapa daun kering jatuh ke pangkuanmu, sebagian jatuh ke rambutmu yang basah menjuntai melewati bahumu, terbalut kaus putih dengan syal merah muda.

”Datanglah nanti ke taman Ewood, aku akan menjadi senja.” Kamu membaca kembali pesan singkat yang kukirimkan pagi tadi. Lalu tersenyum. Kamu pasti bangga denganku.

”Bagaimana caranya?”

”Datang saja, nikmati cahaya merah setelah matahari terbenam, kamu harus yakin bahwa senja itu adalah aku.”

”Jadi, kamu tidak akan hadir menikmati senja bersamaku?”

”Tentu tidak. Bukankah yang menjadi senja adalah aku sendiri?”

”Bagaimana aku bisa tahu kalau itu kamu?”

”Aku akan membuat senja itu sedikit berbeda.”

Senja masih akan hadir sekitar satu jam lagi, beberapa pasangan telah tiba dan mencari tempatnya masing-masing, semakin banyak orang berdatangan, jauh lebih banyak dari sebelumnya, bahkan ada yang membawa kanvas untuk melukis senja. Mereka antusias sekali menunggu. Taman Ewood seperti menjadi tempat rekreasi dadakan, yang gratis. Dan tibalah saatnya, matahari perlahan membenamkan tubuhnya di pelukan cakrawala.

Cahaya senja itu muncul, membentang merah lebih pekat, tidak bercampur dengan warna kuning keemasan. Memenuhi garis langit. Orang-orang berdecak kagum.

”Hei, lihat, warnanya agak berbeda dari kemarin. Sepertinya lebih indah. Mungkin ini fenomena alam.”

”Cepat dipotret! Diabadikan!”

”Direkam saja sayangku. Mmmuach!” sepasang muda-mudi berciuman di depan senja yang spesial kuhadirkan untukmu. Sementara kulihat kamu terdiam dengan pemandangan senja itu, mungkin kamu sedang membandingkannya dengan senja yang kemarin atau senja yang biasa kamu lihat di desa Yorkshire.

”Aku sudah melihat senja. Senja yang benar-benar berbeda.” Kamu mengirimkan pesan singkat untukku. Senyummu mengambang, tidak ada yang tahu bahwa senja itu adalah aku kecuali kamu.

”Bagaimana caranya? Beritahu aku. Biar besok giliran aku yang menjadi senja untukmu.” Pesan singkat yang lain kamu kirimkan lagi.

Orang-orang masih menatap dengan kagumnya, mereka mengambil kamera dan memotret setiap sudut senja itu. Ada pula yang benar-benar merekamnya, meminta pasangan bergaya di sepanjang taman yang berlatar warna merah.

Senja itu semakin lengkap ketika burung-burung menuju ke arahnya, pemandangan yang nyaris sempurna, puluhan kamera mencipratkan cahaya, seperti suatu pertunjukan di atas panggung, orang-orang tak henti-hentinya melontarkan kalimat kekaguman, semakin ramai saja, seolah penduduk kota Blackburn semuanya tumpah di taman Ewood, hingga akhirnya beberapa dari mereka sadar, ada sekelompok burung hitam yang tak seharusnya ada di situ. Kamu melihat handphone, belum ada pesan balasan dariku.

LIMA

Wanita-wanita menjerit, sebagian memeluk pasangannya, sebagian lagi menutup matanya dan menangis, teriakan menggema di taman Ewood, ”Itu bukan senja! Itu darah!”